Sumbawanews.com,- Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone canggih baru yang menghancurkan hampir seluruh infrastruktur militer Amerika Serikat di Erbil, Irak. Serangan yang dilancarkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) itu menargetkan pesawat-pesawat AS di darat, termasuk 17 drone pengintai dan operasional, satu jet tempur F-15, satu pesawat P-8, satu pesawat angkut C-17, serta delapan pesawat pengisi bahan bakar. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengklaim drone baru tersebut lebih canggih dan akurat dibandingkan model Arash-2, dan menjadi andalan dalam operasi balasan yang membuat pangkalan-pangkalan AS kehilangan sebagian besar kemampuan operasionalnya. Iran menegaskan akan melanjutkan serangan hingga AS menyadari bahwa mereka tidak bisa memaksakan kehendak melalui agresi.
Serangan ini terjadi setelah 13 hari bombardir AS terhadap Iran, yang menewaskan sedikitnya 55 warga Iran. Sementara itu, Pentagon mengubah angka korban tentara AS dari 18 menjadi 14, dengan alasan empat kematian terjadi setelah pengumuman gencatan senjata oleh Presiden Donald Trump pada April, meskipun pertempuran kembali meletus. Tiga dari empat prajurit yang dihapus dari daftar korban tewas di Yordania, satu lainnya di Irak utara. Pentagon menyalahkan perubahan angka pada “anomali situs web” dan “gangguan data sementara,” namun Trump tetap menyebut angka 18 dalam pernyataan publiknya, menciptakan ketidakjelasan apakah perubahan itu kesalahan teknis atau keputusan sengaja dalam klasifikasi korban.















