Sumbawanews.com,- Setiap 5 Juni, dunia berhenti sejenak untuk mendengarkan suara alam yang semakin keras: gletser yang mencair, hutan yang terbakar, laut yang naik, dan panas yang memecahkan rekor. Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang ditetapkan Majelis Umum PBB pada 1972 dan pertama kali dirayakan pada 1973, bukan sekadar simbol. Ia adalah alarm global—sebuah panggilan untuk bertindak sebelum ambang batas 1,5 derajat Celsius yang pernah dianggap jauh, kini telah dilampaui.
Diprakarsai oleh Program Lingkungan PBB (UNEP), peringatan ini kini menjadi platform terbesar di dunia untuk mobilisasi lingkungan, melibatkan jutaan orang, ribuan organisasi, dan pemerintah dari lebih 150 negara. Slogan awalnya—“Hanya Satu Bumi”—masih relevan, bahkan lebih mendesak. Karena bumi tidak bernegosiasi. Ia tidak menunggu. Ia mengirim sinyal lewat kebakaran hutan yang tak terkendali, gelombang panas yang mematikan, dan banjir yang menghancurkan komunitas.
Selama puluhan tahun, janji-janji iklim terhambur oleh penundaan, pengalihan tanggung jawab, dan penyangkalan. Tapi kini, di tengah kebisingan, muncul sinyal lain: panel surya yang memenuhi atap rumah, turbin angin yang berputar di cakrawala, kota-kota yang dirancang ulang untuk manusia, dan hutan-hutan yang ditanami kembali. Solusi tidak lagi hanya di meja rapat—ia hidup di jalan-jalan, di desa-desa, di gerakan kaum muda yang menuntut keadilan iklim.
Tahun 2026, Azerbaijan menjadi tuan rumah peringatan global ini, memilih tema “Iklim yang Menentukan Masa Depan”. Negara yang terletak di persimpangan Eropa dan Asia, dengan keanekaragaman iklim yang unik—delapan zona iklim berbeda, dari hutan subtropis hingga pegunungan tinggi—kini bertransformasi menjadi laboratorium hijau di kawasan Kaukasus.
Azerbaijan, yang merupakan peserta Perjanjian Paris, menargetkan pengurangan emisi sebesar 40% pada 2035 dibandingkan tingkat 1990. Di bawah komitmen ini, proyek energi terbarukan berskala besar sedang berjalan: Pembangkit Listrik Tenaga Surya Garadagh 230 MW dan Ladang Angin Khizi-Absheron 240 MW, dengan total kapasitas lebih dari 1 GW dalam tahap pengembangan. Targetnya: 30 persen energi berasal dari sumber terbarukan pada 2030.
Di ibu kota Baku, bus listrik dan infrastruktur kendaraan listrik mulai menggantikan mobil konvensional. Kota pintar diterapkan, sementara wilayah Garabagh dan Zangezur Timur sedang diubah menjadi zona “nol emisi”—menggabungkan restorasi ekosistem, energi bersih, dan pembangunan pasca-konflik. Pertanian tahan iklim dan sistem pengelolaan air modern diperkenalkan di daerah rawan kekeringan.
Tak kalah signifikan, Azerbaijan melarang total penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan ketebalan hingga 15 mikron sejak 2019—melalui reformasi hukum yang ketat yang melarang impor, produksi, hingga penjualan di sektor perdagangan, katering, dan layanan publik. Ini bukan sekadar kebijakan, tapi perubahan budaya.
Peringatan tahun ini bukan tentang menyalahkan. Ia tentang memilih. Bumi telah berbicara. Pertanyaannya sekarang: apa yang akan kita kirimkan sebagai balasan? Apakah kita akan terus mengabaikan sinyalnya—atau membangun masa depan yang berkelanjutan, adil, dan nyata? Jawabannya bukan di janji politik, tapi di tindakan kita hari ini.

















