Home Berita Internasional Biaya Hidup Membengkak, Pendukung Trump Terpecah

Biaya Hidup Membengkak, Pendukung Trump Terpecah

Sumbawanews.com,- Washington — Mayoritas warga Amerika Serikat kini menganggap biaya hidup sebagai yang terburuk dalam sejarah pribadi mereka, sebuah persepsi yang semakin memperdalam ketegangan politik di tengah kenaikan harga bahan pokok dan energi yang dipicu oleh konflik dengan Iran. Survei terbaru dari Public First untuk POLITICO mengungkapkan 53 persen responden menyatakan kondisi keuangan mereka lebih buruk dibandingkan sebelumnya—angka yang naik signifikan dari 47 persen pada November 2025.

Kenaikan harga bensin, tiket pesawat, dan sembako menjadi sorotan utama. Lebih dari 60 persen warga menyalahkan perang Iran sebagai pemicu utama tekanan inflasi, meskipun pemerintah berulang kali menegaskan bahwa kebijakan ekonomi yang diambil sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dirancang untuk memperkuat daya beli. Namun, realitas di lapangan jauh berbeda: hampir separuh responden—48 persen—menilai Trump bertanggung jawab penuh atau sebagian besar atas krisis ini, sementara hanya 28 persen yang masih menyalahkan mantan presiden Joe Biden.

Yang lebih mengejutkan, sekitar 18 persen dari pemilih yang mendukung Trump dalam pemilihan presiden 2024 mengaku mengalami kemunduran finansial sejak ia kembali menjabat. Fenomena ini menunjukkan retakan yang semakin dalam di kalangan basis pendukungnya sendiri, yang sebelumnya dianggap solid. “Masyarakat merasakan dampaknya langsung di meja makan dan di pompa bensin,” kata Kevin Madden, strategi komunikasi Partai Republik. “Narasi politik yang mencoba menyalahkan pemerintahan sebelumnya tidak lagi cukup meyakinkan.”

Upaya Partai Republik untuk memutar balik narasi—dengan menyalahkan kebijakan ekonomi Biden sebagai akar masalah—terasa semakin rapuh. Data survei menunjukkan bahwa persepsi publik tidak lagi tergantung pada retorika politik, melainkan pada pengalaman sehari-hari. Harga energi yang meroket, biaya logistik yang membengkak, dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah telah menciptakan tekanan ganda: ekonomi yang secara teknis masih tumbuh, tetapi rasa aman finansial warga justru merosot.

Kondisi ini menjadi tantangan serius menjelang pemilu paruh waktu. Trump, yang selama kampanye menjanjikan “America First” dan pemulihan ekonomi, kini dihadapkan pada realitas yang tak terbantahkan: ketika rakyat merasa makin sulit bernapas, loyalitas politik pun mulai goyah. Di tengah ketegangan dengan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda, dan harga minyak dunia yang terus berfluktuasi, pemerintah AS berada di persimpangan—antara mempertahankan kebijakan luar negeri yang keras atau mengambil langkah untuk meredam beban ekonomi rakyatnya.

Dalam dunia politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada data. Dan saat ini, persepsi itu jelas: warga Amerika tidak merasa lebih baik. Mereka merasa lebih berat. Dan di balik setiap angka inflasi, ada ribuan keluarga yang harus memilih antara membeli obat atau membeli beras.

Previous articleNegara Hadir di Rumah Rakyat
Next articleSalah Belanja Kredivo? Ini Cara Batalkan Tagihan Tanpa Ribet
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik