Sumbawanews.com,- Korban jiwa akibat banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal dan China mencapai 470 orang, dengan lebih dari 1.500 orang dinyatakan hilang, sejak bencana terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Otoritas Nepal melaporkan 469 orang tewas di wilayahnya, sementara China mencatat lima korban tewas, dengan total 977 orang hilang di Nepal dan 558 orang hilang di China. Ribuan warga, termasuk warga negara asing yang sedang mendaki, bekerja, atau berziarah di wilayah pegunungan Himalaya, masih belum ditemukan. Petugas penyelamat terus beroperasi dengan kewaspadaan tinggi, menyusul peringatan bahwa bendungan alami di Tibet telah jebol dan risiko banjir susulan masih tinggi.
Di Nepal, helikopter telah mengevakuasi lebih dari 3.000 penyintas ke lokasi aman, sementara tim penyelamat terus mengevakuasi korban dari lokasi terdampak seperti Trishuli Bazar dan panti jompo Devighat. Di sisi China, media pemerintah menayangkan upaya evakuasi desa dan koordinasi pemimpin dalam operasi bantuan, meski informasi rinci tentang penyintas masih terbatas. Pihak berwenang kedua negara mengingatkan risiko banjir susulan dari danau penghalang alami yang terbentuk akibat longsoran, dengan salah satu danau berada pada ketinggian 2.950 meter—sekitar 1.000 meter di atas Pelabuhan Gyirong, titik perbatasan yang paling parah terdampak. Kepolisian Nepal mengeluarkan peringatan darurat setelah mendapat laporan kegagalan bendungan di Tibet, dan memerintahkan semua personel untuk tetap siaga serta segera mengungsi jika diperlukan. Operasi penyelamatan masih berlangsung, dengan para petugas bekerja di tengah kondisi yang terus berubah dan berbahaya.















