Home Berita Internasional Bandara Sanaa Diserang, Houthi Ancam Serang Fasilitas Strategis Saudi

Bandara Sanaa Diserang, Houthi Ancam Serang Fasilitas Strategis Saudi

Sumbawanews.com,- Angkatan Bersenjata Houthi di Yaman mengumumkan bahwa pesawat tempur Saudi menyerang Bandara Internasional Sanaa pada Senin, sebagai respons terhadap serangan yang mereka yakini ditujukan untuk menghentikan penerbangan kemanusiaan yang membawa delegasi Houthi dari Iran. Menyusul serangan itu, Houthi mengancam balasan besar-besaran, menetapkan sejumlah bandara, pelabuhan, dan fasilitas minyak utama di Arab Saudi sebagai target potensial. Juru bicara Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan serangan udara Saudi terjadi pukul 13.54 waktu setempat dan bertujuan melumpuhkan operasional bandara yang melayani pasien serta warga sipil yang terlantar. Ia menegaskan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dan menandai berakhirnya semua pretensi perdamaian.

Serangan terhadap Bandara Sanaa memicu respons militer Houthi dengan peluncuran rudal balistik dan pesawat nirawak yang ditujukan ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi. Media militer Houthi merilis video berjudul “Balasan akan datang,” yang memetakan lokasi strategis di seluruh wilayah Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara King Abdulaziz di Jeddah, dan Bandara King Fahd di Dammam. Video itu juga menunjukkan Pelabuhan Jazan, Pelabuhan Islam Jeddah, Pelabuhan Industri King Fahd, serta kompleks minyak Ras Tanura sebagai titik-titik yang berpotensi menjadi sasaran. Meski tidak menyatakan serangan pasti akan dilancarkan, rekaman itu menjadi peringatan tegas bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil Yaman akan dijawab dengan dampak seimbang terhadap ekonomi dan keamanan Saudi.

Sejak operasi militer koalisi dipimpin Saudi dimulai pada 26 Maret 2015 untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Hadi, konflik di Yaman telah menewaskan antara 150.000 hingga lebih dari 377.000 orang, sebagian besar akibat kekerasan langsung maupun dampak tidak langsung seperti kelaparan, wabah kolera, dan gagalnya akses layanan medis. Data ACLED mencatat lebih dari 150.000 kematian akibat serangan militer langsung sejak 2015, sementara serangan udara koalisi Saudi telah menyebabkan sekitar 19.200 korban sipil terbunuh atau terluka, dengan hampir 9.000 di antaranya tewas langsung akibat kampanye pemboman. Dewan Hubungan Luar Negeri menyebut 60 persen dari total kematian antara 2015 dan 2022 disebabkan oleh krisis kemanusiaan yang dipicu konflik.

Gencatan senjata yang disepakati pada 2022 sempat menenangkan situasi, namun ketegangan memanas kembali setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Houthi, yang sejak Oktober 2023 terlibat dalam tekanan terhadap Israel atas perang di Gaza, kini mengancam akan menutup Laut Merah. Serangan terhadap Bandara Sanaa dianggap sebagai pelanggaran serius yang mengakhiri segala bentuk kepercayaan terhadap gencatan senjata. Houthi menegaskan tidak akan membiarkan kedaulatan atau infrastruktur sipilnya diserang tanpa konsekuensi.

Previous articleKejagung Bentuk Tim Khusus, KPK Siap Supervisi Kasus Febrie Adriansyah
Next articleAyah di Bali Semakin Aktif Antar Anak Sekolah, Selaras Nilai Budaya Lokal