Home Berita Internasional AS Tarik Pasukan dari Eropa, NATO Gelisah

AS Tarik Pasukan dari Eropa, NATO Gelisah

Sumbawanews.com,- Amerika Serikat tengah mempercepat penarikan pasukannya dari pangkalan-pangkalan militer di Eropa, sebuah langkah strategis yang memicu kekhawatiran mendalam di jajaran NATO. Jika direalisasikan, pergeseran ini bukan sekadar penyesuaian logistik, melainkan tanda bahwa Washington sedang merekonfigurasi seluruh arsitektur keamanan globalnya—dari benua yang selama tujuh dekade menjadi tulang punggung pertahanan Barat, menuju kawasan Indo-Pasifik yang kian panas akibat kebangkitan Tiongkok.

Laporan dari surat kabar Jerman *Welt am Sonntag* menyebut, rencana penarikan ini akan disampaikan secara resmi kepada sekutu-sekutu NATO dalam pertemuan mendatang. Langkah pertama yang sudah diumumkan adalah penarikan 5.000 tentara dari Jerman, negara yang selama puluhan tahun menjadi pusat operasi militer AS di Eropa. Saat ini, sekitar 35.000 personel AS masih berdiam di tanah Jerman—jumlah terbesar di seluruh benua itu. Pengurangan signifikan di sini akan mengguncang fondasi keamanan Eropa yang telah berdiri sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan bukanlah angka-angka itu, melainkan narasi politik di baliknya. Pemerintahan Presiden Donald Trump semakin terbuka dalam menyuarakan kebosanan terhadap pola lama di mana AS menanggung beban pertahanan negara-negara kaya di Eropa. Menteri Perang Pete Hegseth, dalam pidatonya di Dialog Shangri-La di Singapura, menyampaikan pesan tegas: “Era di mana Amerika mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Kita butuh mitra, bukan protektorat. Kita mencari aliansi berbasis tanggung jawab bersama, bukan ketergantungan.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia adalah sinyal bahwa Washington mulai memandang NATO bukan lagi sebagai alat pertahanan kolektif yang tak tergoyahkan, melainkan sebagai mekanisme yang perlu direvisi—dengan syarat: sekutu harus membayar lebih, atau AS akan pergi.

Dan kepergian itu tak lepas dari fokus baru: Tiongkok. Hegseth secara eksplisit menghubungkan peningkatan anggaran pertahanan Eropa dengan kebutuhan AS untuk mengalihkan sumber daya militer, teknologi, dan kapasitas strategis ke Indo-Pasifik. Dengan kata lain, setiap tentara yang ditarik dari Jerman atau Italia adalah tentara yang bisa dikerahkan ke Laut Cina Selatan, Taiwan, atau kawasan Pasifik Barat—tempat di mana Beijing semakin agresif dalam mengejar dominasi maritim dan teknologi.

Ini bukanlah isu baru. Sejak 2014, NATO telah menetapkan target bahwa anggota harus mengalokasikan minimal 2% dari PDB-nya untuk pertahanan. Namun, hingga kini, sebagian besar negara Eropa—termasuk Jerman, Prancis, dan Italia—masih jauh dari target itu. Kini, AS tak lagi bersabar. Ia meminta kejelasan: apakah Eropa siap bertahan sendiri, atau akan terus mengandalkan perlindungan dari luar?

Reaksi di Brussels dan Berlin pun bervariasi. Sebagian pejabat Eropa memandang langkah AS sebagai tekanan yang wajar, bahkan mendesak. Namun, banyak pula yang mengkhawatirkan dampak jangka panjang: jika AS benar-benar mengurangi kehadirannya, siapa yang akan menjadi penjamin keamanan Eropa di tengah ancaman Rusia yang masih mengganas, dan Tiongkok yang semakin dekat dengan pintu gerbang Atlantik?

Perubahan ini bukan hanya soal pasukan yang bergerak. Ini adalah peralihan zaman—ketika hegemoni militer Barat mulai bergeser dari Atlantik ke Pasifik, dan Eropa harus memilih: menjadi aktor mandiri, atau menjadi penonton dalam permainan kekuatan global yang kian rumit. NATO, yang dulu menjadi simbol persatuan Barat, kini menghadapi ujian terbesarnya sejak Perang Dingin—bukan dari luar, tapi dari dalam.

Previous articleKSP Dudung Kenang Ryamizard sebagai Prajurit Sejati
Next articlePresiden Prabowo Hanya Jadwalkan Kunjungan ke Prancis
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik