Sumbawanews.com,- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga malam terakhir, memicu balasan dari Teheran yang menutup kembali Selat Hormuz. Serangan AS, yang dimulai pada Minggu malam pukul 21.00 GMT, diarahkan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal sipil di jalur pelayaran strategis itu. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan, “Kami sedang menghajar mereka,” setelah memerintahkan operasi tersebut sebagai respons atas serangan Iran terhadap fasilitas AS di negara-negara Teluk, termasuk Qatar yang sebelumnya tidak pernah menjadi target sejak April.
Iran mengecam serangan AS sebagai penghancuran terhadap upaya diplomatik selama beberapa bulan terakhir. Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Washington mengganggu pelayaran internasional dan menggagalkan pembicaraan dengan Oman di Muscat, yang diklaim gagal akibat tekanan AS. Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang target di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar, meski klaim itu belum diverifikasi independen. Uni Emirat Arab menyatakan sistem pertahanannya berhasil mencegat rudal dan drone Iran, sementara media Iran melaporkan ledakan di sekitar Bandar Abbas, Sirik, dan Pulau Qeshm.
Otoritas Selat Teluk Persia yang dibentuk Iran menyatakan pelayaran melalui Selat Hormuz sementara tidak memungkinkan karena aktivitas militer AS yang dianggap ilegal. AS menegaskan tetap bersiaga menjaga kebebasan navigasi dan mencabut izin penjualan minyak mentah Iran. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3,5 persen, dengan West Texas Intermediate tembus US$74 per barel, memperburuk tekanan inflasi menjelang pemilu legislatif AS pada November.















