Sumbawanews.com,- Istanbul – Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Israel dan Hizbullah telah menyetujui gencatan senjata yang berlaku mulai Jumat, 19 Juni 2026, pukul 16.00 waktu setempat atau 20.00 WIB. Kesepakatan ini muncul setelah serangkaian serangan mematikan yang menewaskan setidaknya 47 warga sipil dan melukai puluhan lainnya di Lebanon Selatan, sementara empat tentara Israel juga tewas dalam serangan balasan kelompok bersenjata Syiah itu.
Seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kesepakatan itu dicapai setelah intensifnya tekanan diplomatik, termasuk percakapan langsung antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Israel Benjamin Netanyahu. “Hasilnya positif,” kata Trump dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, menambahkan bahwa ia tetap menjaga hubungan baik dengan Netanyahu meskipun ketegangan berkepanjangan. “Kau hanya perlu tenang sedikit dan gunakan otakmu,” ujarnya.
Gencatan senjata ini menjadi titik balik penting setelah konflik memburuk sejak 2 Maret 2026, yang menurut data resmi telah menewaskan 3.912 orang, melukai 11.873 warga, dan memaksa lebih dari satu juta penduduk Lebanon mengungsi. Pasukan Israel bahkan telah menerobos perbatasan hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, menduduki sejumlah titik strategis yang sebagian telah dikuasai selama puluhan tahun.
Kesepakatan ini juga terkait erat dengan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani secara elektronik pada 17 Juni lalu antara Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang bertujuan mengakhiri konflik berskala lebih luas antara AS-Israel dan Iran. Meski belum ada pengumuman resmi dari Hizbullah atau pemerintah Israel, sumber militer Lebanon mengonfirmasi bahwa serangan udara dan tembakan artileri telah berhenti sejak pukul 16.00 waktu setempat.
Namun, ketidakpercayaan masih menggantung. Beberapa wilayah di Lebanon Selatan tetap dalam keadaan siaga tinggi, dan belum ada kepastian mengenai penarikan pasukan Israel atau mekanisme pengawasan gencatan senjata. Pihak Hizbullah sendiri belum memberikan pernyataan resmi, sementara otoritas Israel hanya mengatakan bahwa mereka “menilai situasi secara dinamis.”
Dalam konteks yang lebih luas, kesepakatan ini dianggap sebagai hasil dari tekanan diplomatik AS yang semakin intens, terutama setelah serangan terhadap infrastruktur sipil dan kematian warga sipil memicu kemarahan internasional. PBB dan sejumlah negara Eropa meminta agar gencatan senjata ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi fondasi bagi solusi politik jangka panjang.
Sementara itu, warga Lebanon yang baru kembali ke desa-desa mereka setelah mengungsi selama berminggu-minggu mengaku lega, namun tetap waspada. “Kami tidak percaya lagi pada janji-janji,” kata Fatima, seorang ibu rumah tangga dari Marjayoun. “Kami hanya berdoa agar ini benar-benar berakhir.”
Dengan gencatan senjata yang mulai berlaku, dunia kini menanti apakah diplomasi akan menggantikan peluru—atau hanya menunda kehancuran yang tak terhindarkan.















