Sumbawanews.com,- Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Senin, 13 Juli 2026, dengan menargetkan infrastruktur strategis di sepanjang pantai Selat Hormuz dan wilayah barat daya negara itu. Operasi ini, yang diputuskan langsung oleh Presiden Donald Trump dan dijalankan oleh Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran internasional di jalur maritim krusial tersebut. Serangan itu memicu ledakan hebat di beberapa lokasi, termasuk desa Tahrovi di Kabupaten Sirik, kota Jask, Pulau Qeshm, serta pelabuhan utama Bandar Abbas dan Chabahar.
Kawasan industri petrokimia di Provinsi Khuzestan, terutama Ahvaz dan Mahshahr, turut menjadi sasaran serangan udara. Fasilitas komunikasi di Provinsi Hormozgan dan kawasan Khondab di Markazi, yang berdekatan dengan fasilitas nuklir Arak, juga dilanda serangan. Laporan dari media Iran menyebutkan minimal tiga ledakan terjadi di Jask, diikuti dentuman berulang, sementara menara telekomunikasi di Tahrovi—yang sebelumnya pernah diserang—hancur. Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi berkelanjutan setelah Iran sebelumnya menargetkan pangkalan militer AS di lima negara Teluk.
Pemerintah Iran menegaskan akan membalas setiap agresi militer dengan tegas. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan serangan apa pun tanpa respons yang setara. Ia pun mendesak parlemen segera mengesahkan regulasi yang mengikat pemerintah untuk memberikan balasan keras terhadap serangan terhadap Pemimpin Revolusi Islam, komandan militer senior, dan tokoh nasional yang dilindungi negara. “Tidak boleh ada tindakan terhadap Iran yang dibiarkan tanpa balasan,” tegasnya.















