Sumbawanews.com,- New York — Zohran Mamdani menjadi wali kota pertama dalam sejarah New York yang tidak hadir dalam Parade Hari Israel, acara tahunan yang telah berlangsung sejak 1964. Keputusan ini memecah tradisi panjang di mana setiap pemimpin kota, tanpa terkecuali, selalu hadir sebagai simbol solidaritas dengan komunitas Yahudi.
Meski absen dari barisan parade yang melintas di Manhattan, Mamdani menegaskan bahwa pemerintah kota tetap memberikan izin dan jaminan keamanan penuh bagi peserta acara. “Saya percaya pada hak yang sama untuk semua orang di mana pun. Prinsip itu selalu membimbing saya,” ujar juru bicaranya, menanggapi kritik dan kebingungan dari berbagai pihak.
Mamdani, wali kota Muslim pertama New York yang dilantik pada Januari 2026, tak menyembunyikan sikap kritisnya terhadap kebijakan Israel terhadap Palestina. Ia bahkan mencabut kebijakan lama yang melarang lembaga pemerintah kota mendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) terhadap Israel—langkah yang langsung memicu reaksi keras dari kelompok pro-Israel.
Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa ketidakhadirannya bukanlah penolakan terhadap budaya atau sejarah Yahudi, yang ia akui sebagai bagian penting dari jalinan identitas New York. “Saya berharap dapat bergabung dan menjadi tuan rumah banyak acara komunitas yang merayakan kehidupan Yahudi, sejarah, dan budaya Yahudi yang kaya di kota kita,” katanya.
Namun, ia menolak memisahkan simbol dari substansi. Dalam perayaan Hari St. Patrick beberapa waktu lalu, Mamdani justru membandingkan penderitaan sejarah bangsa Irlandia dengan apa yang ia sebut sebagai “genosida” yang terjadi di Palestina selama konflik dengan Hamas. Pernyataan itu memperdalam polemik, terutama di tengah lonjakan kasus antisemitisme di kota ini—yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Kehadiran Mamdani yang hilang dari parade itu bukan sekadar keputusan pribadi. Ia menjadi simbol pergeseran politik yang semakin nyata di Amerika Serikat: di mana solidaritas terhadap kelompok minoritas yang tertindas mulai menyaingi tradisi diplomatik yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Bagi sebagian, ia adalah pemberani yang berdiri di sisi keadilan. Bagi yang lain, ia adalah pengkhianat terhadap komunitas yang telah lama menjadi bagian dari jantung New York.
Parade Hari Israel tetap berlangsung seperti biasa, dengan ribuan peserta, bendera Israel berkibar, dan musik tradisional menggema di jalanan Manhattan. Tapi kali ini, di tengah keriuhan itu, ada satu kursi kosong di barisan terdepan—yang tak lagi diisi oleh wali kota. Dan di situlah, sebuah pertanyaan besar menggema: apakah simbol masih bisa menyembunyikan ketidakadilan?















