Home Serba Serbi Tekno UGM Terima 3.729 Mahasiswa dari 45 Ribu Pendaftar

UGM Terima 3.729 Mahasiswa dari 45 Ribu Pendaftar

Sumbawanews.com,- Jakarta — Lebih dari 45 ribu calon mahasiswa beradu ketajaman pikiran dalam ujian berbasis komputer Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berlangsung dari 2 hingga 8 Juni 2026. Dari 44.972 peserta yang mengikuti seleksi mandiri, hanya 3.729 yang akan diterima di 93 program studi sarjana dan sarjana terapan—menghasilkan rasio persaingan lebih dari 12 banding 1. Di Yogyakarta, 40.190 peserta memadati ratusan ruang ujian, sementara 4.782 lainnya mengikuti tes di Jakarta, menjadi bukti bahwa UGM tetap menjadi magnet pendidikan tinggi teratas di Indonesia.

Rektor UGM, Ova Emilia, menegaskan bahwa pihaknya terus memperkuat sistem pengawasan demi menjamin keadilan dan integritas proses seleksi. “Kami tidak hanya menyesuaikan soal, tapi juga memperbarui protokol teknis dan antisipasi kecurangan yang semakin canggih,” ujarnya saat memantau pelaksanaan ujian di kampus utama, Kamis (4/6). Menurutnya, setiap tahun, tim penyelenggara mereview kegagalan dan keberhasilan sebelumnya, sehingga sistem ujian tidak stagnan, tetapi terus berkembang seiring dinamika teknologi dan perilaku peserta.

Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Gandes Retno Rahayu, menjelaskan bahwa meski jumlah pendaftar melonjak, kuota penerimaan tetap konsisten mengacu pada daya tampung fakultas. “Materi ujian tidak berubah dari tahun lalu, tetapi soalnya benar-benar baru—tidak ada yang diulang, tidak ada yang diprediksi,” katanya. Program studi favorit tetap mendominasi: Kedokteran, Manajemen, dan Hukum menjadi tiga jurusan paling diminati. Namun, tren menarik muncul di Kedokteran Gigi dan Hukum, yang mengalami peningkatan signifikan minat dibanding tahun sebelumnya.

Di balik ketatnya persaingan, UGM menjamin inklusivitas. Unit Layanan Disabilitas UGM, yang dipimpin Wuri Handayani, menyiapkan solusi khusus bagi peserta dengan kebutuhan khusus. Peserta tunanetra ditempatkan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dilengkapi komputer dengan aplikasi pembaca layar dan pendamping yang menarasikan soal berbasis gambar. Peserta tuli, disabilitas fisik, maupun mental juga ditempatkan di ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan aksesibilitasnya. “Kami percaya, kesetaraan bukan sekadar slogan. Ini soal hak untuk menunjukkan kemampuan terbaik, tanpa hambatan,” ujar Wuri.

Dengan sistem ujian yang semakin ketat, teknologi yang semakin canggih, dan semangat inklusif yang terus dipertahankan, UGM bukan hanya memilih calon mahasiswa terbaik—tapi juga menegaskan komitmennya terhadap pendidikan yang adil, transparan, dan manusiawi. Bagi para peserta, ini bukan sekadar ujian masuk. Ini adalah babak pertama dari perjalanan menuju masa depan yang harus mereka rebut, satu soal demi satu soal.

Previous articleTarif Kilat Izin Tinggal WNA Terungkap di Kasus Silmy
Next articleTurki Panen Ekspor Senjata di Tengah Gejolak Global
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.