Sumbawanews.com,- Pemerintah Turki meningkatkan kerja sama teknis dan militer dengan Tentara Nasional Libya (LNA) di bawah pimpinan Khalifa Haftar, meliputi pembangunan fasilitas militer, pemasangan sistem radar canggih, serta pelatihan perwira Libya di Ankara yang melibatkan perusahaan pertahanan Turki. Wakil Komandan Pasukan Timur, Saddam Haftar, dikabarkan langsung memimpin pembahasan kerja sama ini bersama Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Turki. Meski tidak ada pengumuman resmi tentang penempatan pangkalan militer atau drone, hubungan kedua pihak menunjukkan keterikatan yang semakin erat.
Kehadiran Turki di Libya timur sempat menimbulkan kekhawatiran di Mesir, sekutu utama Haftar, yang khawatir pengaruhnya di perbatasan timur Libya terganggu. Namun, sejumlah sumber mengungkapkan bahwa setiap langkah Turki di Libya justru dilakukan melalui koordinasi erat dengan Kairo. Direktur Arab Foundation for Development Strategic Studies, Samir Ragheb, menyatakan bahwa hubungan militer Turki-Mesir kini mencapai tingkat tertinggi, termasuk dalam mendukung angkatan bersenjata Sudan melawan RSF. Ia menilai keterlibatan Turki di Libya timur justru membantu kepentingan strategis Mesir dengan mencegah dukungan LNA terhadap RSF dan mengisi kekosongan yang bisa dimanfaatkan aktor regional lain.
Pembangunan kemungkinan fasilitas militer Turki di Libya selatan juga tidak dianggap ancaman oleh Mesir karena jauh dari perbatasan, bahkan berpotensi membuka ruang koordinasi keamanan di kawasan Sahel dan Sahara. Selain itu, Turki diduga mengejar pengakuan dari otoritas Libya timur terhadap perjanjian batas maritim 2019 dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya, sementara Mesir tidak menyatakan keberatan terhadap delimitasi maritim yang menghubungkan Benghazi dan Turki.
Namun, pakar keamanan nasional Libya, Faisal Bualraiga, menegaskan bahwa hubungan ini belum berubah menjadi aliansi strategis penuh karena belum ada perjanjian pertahanan resmi. Ia memperingatkan bahwa kehadiran militer permanen Turki di dekat perbatasan Mesir atau Aljazair bisa menjadi garis merah yang memicu ketegangan regional. Para ahli menyimpulkan, persaingan antara Turki dan Mesir di Libya kini berubah dari konfrontasi menuju kerja sama yang lebih pragmatis.















