Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap bahwa Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, turut terlibat dalam pembicaraan damai antara Teheran dan Washington. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara eksklusif dengan Pod Force One, Rabu (3/6), di tengah upaya keras kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan nuklir pasca-gencatan senjata pada 8 April lalu.
“Dia terlibat, tentu saja. Saya kira mereka sangat menghormatinya,” ujar Trump, merujuk pada Mojtaba Khamenei yang dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran, meski tidak memegang jabatan resmi pemerintahan. Trump menambahkan bahwa hubungannya dengan Mojtaba “tampaknya juga rukun,” sebuah indikasi langka dari seorang pemimpin AS yang biasanya menggambarkan Iran sebagai ancaman eksistensial.
Pernyataan ini mengejutkan sejumlah pengamat, mengingat Mojtaba—yang sejauh ini tidak pernah secara resmi disebut sebagai perantara diplomatik—dikenal sebagai arsitek kebijakan luar negeri Iran yang lebih keras, dengan keterkaitan erat pada Garda Revolusi dan jaringan intelijen militer. Namun, Trump tampak percaya diri bahwa perundingan kini berjalan “dengan pesat” dan memprediksi “banyak hal baik akan terjadi.”
Trump menegaskan bahwa inti tuntutan AS tetap tak berubah: Iran harus menyetujui penghentian permanen program senjata nuklir. “Kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir. Mereka sudah setuju tidak akan memilikinya—tapi mereka bisa berubah pikiran. Itu salah satu hal yang harus mereka setujui,” tegasnya, mengutip laporan dari Anadolu Agency.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran mengenai peran Mojtaba dalam proses negosiasi. Teheran selama ini selalu menekankan bahwa semua pembicaraan dilakukan melalui saluran resmi, dengan Kementerian Luar Negeri sebagai juru bicara utama. Sementara itu, Iran baru-baru ini menuduh AS dan Israel sengaja memperlambat kemajuan diplomasi, dengan menyebut tuntutan Washington sebagai “tidak realistis.”
Trump menyebut kemungkinan pertemuan langsung dengan Mojtaba “bisa terjadi suatu hari nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan.” Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Washington mungkin tengah menjajaki saluran diplomatik tidak konvensional—menghindari jalur resmi yang sering macet—untuk mempercepat kesepakatan yang telah gagal selama bertahun-tahun.
Jika benar Mojtaba menjadi perantara, ini akan menjadi indikasi signifikan bahwa kekuasaan di Iran semakin terkonsentrasi di tangan keluarga Khamenei, bukan hanya pada institusi negara. Dalam konteks geopolitik yang rapuh, langkah Trump ini bisa jadi upaya strategis untuk menembus lapisan kekuasaan yang selama ini dianggap tertutup—sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi modern kini tak lagi hanya berjalan melalui kantor luar negeri, tapi juga di ruang keluarga.

















