Sumbawanews.com,- Washington — Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk bertemu langsung dengan Mojtaba Khamenei, putra dan penerus Ayatollah Ali Khamenei yang kini memimpin Iran. Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya ketegangan antara AS dan Iran, setelah serangkaian serangan balasan yang memicu kekhawatiran akan runtuhnya gencatan senjata yang baru saja disepakati.
Dalam wawancara dengan podcast “Pod Force One” milik *New York Post* pada Rabu (3/6/2026), Trump mengatakan, “Saya ingin bertemu dengannya. Mungkin suatu hari nanti kita akan duduk bersama—tergantung bagaimana situasi berkembang.” Ia menambahkan bahwa ia telah mendengar laporan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami cedera serius dalam serangan udara AS yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu. “Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia kehilangan banyak bagian tubuh,” ujar Trump tanpa menyebut sumber resmi.
Namun, pernyataan Trump bertentangan dengan informasi yang disampaikan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat pada Selasa (2/6). Rubio menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei masih hidup dan justru semakin aktif dalam pengambilan keputusan strategis militer Iran. “Ada indikasi kuat bahwa dia semakin terlibat langsung pada tingkat tertentu,” kata Rubio, menegaskan bahwa pemerintah AS memantau perkembangan ini dengan cermat.
Di sisi lain, Iran mengecam keras serangan AS terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz dan pengeboman menara telekomunikasi di Pulau Qeshm, yang menurut Teheran melanggar kesepakatan gencatan senjata 8 April 2026. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negaranya berhak membela diri dengan segala cara yang tersedia, termasuk menargetkan basis serangan—bahkan jika itu berada di wilayah sekutu AS.
Respons militer Iran pun segera menyusul. Korps Garda Revolusi melancarkan serangan ke bandara internasional Kuwait, yang mereka klaim sebagai balasan atas serangan terhadap infrastruktur energi dan komunikasi Iran. Serangan ini memperdalam kekhawatiran para pengamat geopolitik bahwa gencatan senjata yang rapuh itu kini berada di ambang kehancuran.
Sejak kematian Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba—yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh di balik layar—secara resmi mengambil alih kendali tertinggi negara. Kehadirannya yang kian terlihat di publik, ditambah dengan retorika keras dari para pejabat militer Iran yang menyatakan “perang tak dapat dihindari,” menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Trump, yang pernah menjadi arsitek penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018, kini tampak berusaha memainkan peran sebagai mediator—meski tanpa posisi resmi. Namun, keinginannya untuk bertemu dengan pemimpin Iran yang baru, di tengah kekacauan yang ia sendiri pernah perparah, dianggap sebagian pengamat sebagai upaya politik yang berisiko tinggi. “Ini bukan diplomasi. Ini adalah teater geopolitik,” ujar seorang pakar keamanan internasional dari Universitas Georgetown, yang meminta tidak disebutkan namanya.
Sementara itu, pasar minyak global terus bergetar, dan peringatan dari Moody’s tentang potensi resesi AS jika konflik ini tak segera mereda semakin menggema. Di Washington, tekanan politik pun meningkat: kongres mulai mempertanyakan apakah AS benar-benar ingin memperdalam konflik, atau justru mencari jalan keluar sebelum semuanya terlambat.
Dalam ketidakpastian yang semakin tebal, satu hal tampak jelas: dunia sedang menunggu—apakah pertemuan antara Trump dan Mojtaba Khamenei akan menjadi titik balik, atau hanya menjadi simbol dari sebuah era yang kehilangan kendali.

















