Sumbawanews.com,- Media-media Amerika Serikat menggugat kesepakatan damai antara AS dan Iran sebagai kemenangan strategis Teheran, bukan pencapaian diplomasi Washington. Presiden Donald Trump dinilai telah mengorbankan kepentingan nasional AS demi gencatan senjata yang terlalu murah, sementara Iran mempertahankan inti program nuklirnya dan memperoleh kompensasi finansial raksasa.
Laporan dari MS NOW mengecam keputusan Gedung Putih yang menyetujui perpanjangan gencatan senjata tanpa syarat jelas terkait penghentian program uranium enrichment. “Ini bukan perdamaian—ini adalah penyerahan tanpa syarat,” demikian pernyataan editorial outlet tersebut. “Trump memberi Iran US$300 miliar dalam bentuk komitmen investasi, pencabutan sanksi minyak, dan akses ke Selat Hormuz—semua tanpa memaksa Teheran menghentikan rudal balistik atau menghentikan pengayaan uranium di tingkat tinggi.”
Fox News, yang biasanya menjadi platform pendukung Trump, tak ketinggalan mengutip para ahli keamanan nasional yang menyebut kesepakatan ini sebagai “kesalahan strategis terbesar dalam kebijakan luar negeri pemerintahan Trump yang kedua.” Menurut mereka, Iran tidak hanya lolos dari tekanan ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi geopolitiknya di Timur Tengah tanpa harus mengorbankan satu pun aset militer utamanya.
Wall Street Journal menambahkan bahwa perjanjian itu memicu pemberontakan internal di kalangan pendukung Trump sendiri. Para konservatif garis keras menilai bahwa presiden telah menyerahkan lebih dari yang ia peroleh—menghapus sanksi yang selama bertahun-tahun menjadi senjata utama AS untuk membatasi ambisi nuklir Iran, sementara Teheran hanya berjanji “mengurangi” kadar uranium tanpa batasan waktu atau mekanisme verifikasi independen.
Kesepakatan yang ditandatangani secara digital oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memang mengakhiri perang yang meletus sejak Februari 2026, tetapi banyak pengamat menilai bahwa perang itu sendiri telah menjadi alat tekanan yang efektif. Dengan menghapus blokade di Selat Hormuz dan membuka pintu investasi asing senilai Rp5.342 triliun, AS justru mempercepat pemulihan ekonomi Iran—yang sebelumnya terpuruk akibat sanksi.
Iran sendiri bersikeras bahwa kesepakatan ini tidak mengikatnya untuk menghentikan program rudal balistik, sebuah klaim yang didukung oleh pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Teheran. Sementara itu, delegasi kedua negara tetap bertemu di Swiss untuk membahas detail teknis, menunjukkan bahwa ketegangan diplomasi belum benar-benar reda.
Dalam konteks ini, kritik dari media AS bukan sekadar kekecewaan politik—ia adalah peringatan bahwa kesepakatan ini bisa menjadi titik balik yang merugikan keamanan regional. Jika Iran memanfaatkan dana segar itu untuk memperkuat militer dan jaringan proxy di Yaman, Irak, dan Suriah, maka gencatan senjata itu bukanlah akhir konflik, melainkan awal dari babak baru yang lebih berbahaya.
















