Sumbawanews.com,- Serangan udara Israel di Lebanon Selatan telah memicu kehancuran skala besar, dengan lebih dari 68.000 unit hunian rusak atau hancur total sejak 2 Maret hingga 17 Mei 2026. Data dari Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah Lebanon (CNRS) menunjukkan bahwa dampak militer ini tidak hanya menimpa permukiman warga, tetapi juga fasilitas kritis seperti Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre—kota bersejarah yang menjadi saksi peradaban kuno—serta situs Warisan Dunia UNESCO yang kini terancam runtuh.
Di ibu kota, Beirut, Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan kerugian fisik akibat serangan mencapai minimal USD 365 juta, dengan bangunan publik, sekolah, dan infrastruktur dasar menjadi sasaran utama. Ribuan rumah tak lagi bisa ditinggali, memaksa lebih dari 1,2 juta warga Lebanon mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap lebih aman—sebagian besar tanpa akses listrik, air bersih, atau layanan medis yang memadai.
Eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah, yang memanas sejak awal tahun, kini telah mengubah sebagian besar wilayah selatan Lebanon menjadi puing-puing. Pemerintah Lebanon, yang sudah berjuang melawan krisis ekonomi dan politik berkepanjangan, kini menghadapi bencana kemanusiaan baru yang tak bisa diabaikan. Dunia internasional terus memantau, tetapi upaya gencatan senjata belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan signifikan.
Di tengah kehancuran, warga sipil—termasuk para lansia, ibu dengan bayi, dan anak-anak—berjuang bertahan di bawah reruntuhan, sambil menunggu bantuan yang tak kunjung tiba. PBB memperingatkan bahwa jika serangan berlanjut, jumlah pengungsi bisa melampaui 1,5 juta orang dalam beberapa minggu mendatang.

















