Sumbawanews.com,- Kementerian Pertahanan mengonfirmasi tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia selama menjalani pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) di berbagai lokasi pada Juni 2026. Ketiganya meninggal akibat kondisi medis yang berkembang pesat, bukan karena kecelakaan atau kekerasan fisik, namun memicu evaluasi mendalam terhadap protokol kesehatan dalam program pelatihan yang dijalankan oleh Korps Marinir TNI AL.
Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP), yang meninggal pada 23 Juni 2026 di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa, Jakarta. Sebelumnya, pada 22 Juni, ia mengalami penurunan kondisi kesehatan akibat tuberkulosis (TB), yang tak terdeteksi saat pemeriksaan awal. Sebelum Novia, dua peserta lain juga gugur: Anisa Muyassaroh, yang meninggal akibat heat stroke di Balikpapan pada 15 Juni, dan Yonanda Muhammad Taufiq, yang mengalami henti jantung di Baturaja pada 17 Juni.
Rincian rutinitas harian para peserta SPPI yang dijalani di markas Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Timur, diungkap oleh Komandan Batalyon Latihan SPPI, Letkol (Mar) Agus Mutaqin. Pendidikan dimulai pukul 04.30 WIB dengan bangun pagi, diikuti salat Subuh, olahraga intensif, dan pembinaan fisik. Setelah makan pagi, peserta mengikuti apel, latihan baris-berbaris, dan kuliah teori hingga sore hari. Sesi “pengasuhan” yang mengedepankan disiplin, etika, dan kekompakan menjadi bagian tak terpisahkan, termasuk penanaman nilai keseragaman dan tanggung jawab kolektif.
Kegiatan berakhir pukul 21.30 WIB dengan waktu istirahat. Seluruh rangkaian diawasi ketat oleh pelatih dari Korps Marinir, yang menerapkan sistem hukuman dan penghargaan berbasis kemampuan individu—bukan standar militer baku—untuk membangun karakter tanpa memaksakan batas fisik yang berisiko.
Meski Kemhan menegaskan semua peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan pra-latihan dan mendapat penanganan medis sesuai prosedur saat mengalami gangguan, pemerintah memastikan evaluasi menyeluruh sedang dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan. Tujuannya jelas: menjadikan keselamatan dan kesehatan peserta sebagai prioritas utama, bukan sekadar formalitas.
Tiga nyawa muda yang gugur bukan hanya angka dalam laporan resmi, tapi pengingat bahwa program pembangunan sumber daya manusia sejati harus dimulai dari perlindungan nyata—bukan hanya semangat, tapi juga kesiapan sistem.















