Sumbawanews.com,- Situbondo — Seorang suami, Ahmad Rizky Hidayaturrahman (32), mengaku membunuh istrinya, Murtafia Rafika Devi (34), seorang bidan di RSUD Besuki, Situbondo, dengan memukul kepala korban menggunakan batu. Kejadian mengerikan itu terungkap setelah pelaku menyerahkan diri ke polisi dini hari, Minggu (7/6/2026), dan mengakui perbuatannya karena rasa cemburu yang membara.
Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Selimat, mengatakan, pelaku datang sendiri ke Mapolres sekitar pukul 05.00 WIB, mengaku telah membunuh istrinya. Berdasarkan petunjuk yang diberikan, petugas kemudian menemukan jenazah korban tersembunyi di saluran air dekat lokasi kejadian. Jenazah langsung dievakuasi ke RSUD Abdoer Rahem untuk menjalani otopsi.
Hasil otopsi mengonfirmasi bahwa kematian Murtafia disebabkan oleh trauma tumpul di area kepala, akibat pukulan benda tumpul—diduga batu—yang menghantam secara berulang. “Motif utamanya diduga cemburu dan sakit hati terhadap istrinya. Kami masih mendalami pemicu emosional yang memicu tindakan kejam ini,” ujar Selimat.
Sebagai tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan publik, Murtafia dikenal sebagai sosok yang ramah dan dedikatif. Tetangga dan rekan kerjanya menggambarkan dirinya sebagai istri yang setia, tanpa tanda-tanda konflik rumah tangga yang mencolok sebelum kejadian. Namun, menurut keterangan pelaku, ia mulai curiga terhadap hubungan istrinya dengan seorang pasien, sebuah dugaan yang belum terkonfirmasi secara hukum.
Kepolisian kini sedang menggali riwayat komunikasi pasangan suami-istri itu, termasuk pesan singkat, rekaman telepon, dan riwayat pergerakan korban di lingkungan rumah sakit. “Kami tidak bisa langsung menyimpulkan. Tapi yang jelas, kekerasan bukan solusi, apalagi atas dasar dugaan tanpa bukti,” tegas Selimat.
Ahmad Rizky kini ditahan di sel tahanan Polres Situbondo dan akan segera ditetapkan sebagai tersangka resmi. Penyidik juga berencana memanggil sejumlah saksi, termasuk rekan kerja korban dan keluarga dekat, untuk membangun peta motif yang lebih utuh.
Kasus ini memicu gelombang duka di kalangan masyarakat Situbondo, terutama di kalangan tenaga kesehatan. Banyak yang menyebut kejadian ini sebagai tragedi yang mengguncang hati—seorang perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain, justru menjadi korban kekerasan dari orang terdekatnya.
Pemerintah daerah dan organisasi profesi bidan telah menyatakan duka cita mendalam. “Kami kehilangan salah satu putri terbaik. Ini bukan hanya kehilangan seorang bidan, tapi kehilangan seorang ibu, istri, dan manusia yang penuh kasih,” ujar Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Situbondo.
Proses hukum terus berjalan. Polisi menegaskan bahwa kasus ini akan ditangani secara serius, tanpa tekanan atau intervensi. Siapa pun yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, sekecil apa pun bentuknya, akan dihukum setimpal.
Korban dimakamkan dengan upacara sederhana di pemakaman umum Situbondo, didampingi ratusan rekan kerja, tetangga, dan warga yang datang tanpa diundang—sebagai bentuk penghormatan terakhir pada seorang perempuan yang tak pernah menyakiti siapa pun, tapi justru menjadi korban kebencian yang tak terkendali.

















