Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, menutup rangkaian diplomasi strategisnya di Asia Timur Laut dengan kunjungan resmi ke Pyongyang, diikuti oleh perjalanan ke Seoul—mengukuhkan peran Singapura sebagai jembatan diplomatik di tengah ketegangan regional.
Pertemuan antara Balakrishnan dan Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son-hui, di Pyongyang pada Selasa (26/5/2026) menjadi kunjungan tingkat tinggi pertama dari Singapura ke negara itu dalam delapan tahun terakhir. Dalam pertemuan di Balai Pertemuan Pyongyang, kedua pihak membahas penguatan hubungan bilateral, kerja sama di berbagai sektor, serta pandangan terhadap isu-isu keamanan dan stabilitas regional. Choe menegaskan komitmen Korut untuk memperdalam “hubungan persahabatan yang telah lama terjalin” dengan Singapura, sesuai dengan aspirasi rakyat kedua negara.
Balakrishnan, dalam responsnya, menyampaikan harapan agar kerja sama ini terus berkembang lebih erat. Ia juga menyampaikan doa keberhasilan bagi upaya Korut dalam mewujudkan kemakmuran nasional—sebuah sinyal diplomatik yang halus namun signifikan di tengah isolasi internasional yang masih dihadapi Pyongyang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari perjalanan lima hari Balakrishnan yang mencakup China dan Korea Selatan. Setelah meninggalkan Pyongyang, ia tiba di Seoul pada Kamis (28/5/2026) untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun. Ini merupakan kunjungan resmi pertama Menlu Singapura ke Korsel sejak 2007, menandai kembalinya diplomasi tingkat tinggi antara kedua negara setelah hampir dua dekade.
Para pejabat Seoul mengakui bahwa pertemuan ini diawasi ketat, terutama mengingat posisi unik Singapura sebagai salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan hubungan diplomatik stabil dengan Korut. Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong-young, mengonfirmasi akan mengadakan pertemuan terpisah dengan Balakrishnan, menunjukkan minat mendalam Seoul terhadap wawasan yang dibawa diplomat Singapura dari perjalanan ke Pyongyang dan Beijing.
Diplomasi berurutan ini bukan sekadar serangkaian pertemuan biasa. Ia mencerminkan strategi Singapura yang cermat: memanfaatkan netralitas dan kepercayaan yang dibangun selama puluhan tahun untuk menjadi saluran komunikasi di antara kekuatan yang saling curiga. Dengan mengunjungi ketiga negara—China, Korut, dan Korsel—dalam waktu singkat, Balakrishnan bukan hanya membawa pesan, tetapi juga menguji dinamika baru dalam keseimbangan kekuatan di kawasan.
Kunjungan ini juga menjadi pengingat bahwa dalam geopolitik yang semakin rumit, negara-negara kecil bisa menjadi aktor penyeimbang yang tak terduga. Dan kali ini, Singapura memilih untuk berdiri di tengah—bukan sebagai penengah formal, tetapi sebagai mitra yang dipercaya, yang mampu membawa percakapan dari ruang tertutup Pyongyang ke meja perundingan di Seoul.















