Sumbawanews.com,- Beirut — Dalam satu hari saja, serangan udara Israel di Lebanon menewaskan 56 warga sipil dan melukai 103 orang lainnya, menurut keterangan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon. Angka ini memperdalam krisis kemanusiaan yang telah berlangsung sejak Maret, dengan total korban tewas mencapai 3.269 orang dan lebih dari 9.800 luka-luka.
Serangan yang terjadi pada Rabu (27/5) melibatkan 47 lokasi di selatan dan timur Lebanon, termasuk kota-kota strategis seperti Nabatieh dan Tyre, serta sejumlah desa di Lembah Bekaa. Pesawat tempur Zionis menargetkan infrastruktur sipil, termasuk pusat kesehatan milik Otoritas Kesehatan Islam (Hayaa) di Al-Mashouk—sebuah serangan yang sebelumnya telah merusak rumah sakit dan memicu kecaman internasional.
Meski pada 16 April lalu Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel setelah perundingan tingkat duta besar di Washington, realitas di lapangan jauh berbeda. Serangan harian terus berlanjut, terutama di wilayah perbatasan, sementara Hizbullah merespons dengan serangan balasan yang semakin intensif.
Kementerian Kesehatan Lebanon menegaskan bahwa korban terbanyak berasal dari kalangan warga sipil—ibu, anak-anak, dan petugas medis—yang menjadi sasaran tidak langsung dari konflik yang tak kunjung reda. PBB dan organisasi kemanusiaan terus mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan kekerasan, namun upaya diplomatik tampak lumpuh di tengah eskalasi militer yang tak terduga.
Dengan kehancuran yang terus menyebar dan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi, Lebanon kini berada di ambang bencana kemanusiaan terburuk dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, dunia menunggu—apakah kesepakatan di meja perundingan akan pernah menyentuh tanah yang basah oleh darah.















