Sumbawanews.com,- Beirut — Sebanyak 3.593 orang tewas dan lebih dari 10.990 lainnya terluka akibat serangan militer Israel di Lebanon sejak 2 Maret 2026, menurut data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon yang dirilis Sabtu (6/6). Dalam 24 jam terakhir saja, 67 warga sipil dan petugas keamanan gugur, sementara 257 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara dan artileri yang terus berlanjut di wilayah selatan.
Korban terbaru termasuk seorang jenderal tentara Lebanon dan sopirnya yang tewas saat kendaraan mereka diserang di jalan raya. Insiden ini terjadi meskipun gencatan senjata secara de facto masih berlaku, memicu kemarahan pemerintah Beirut yang mengecam serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional.
Otoritas Lebanon menegaskan bahwa serangan Israel tidak hanya menghancurkan infrastruktur sipil, tetapi juga menghambat upaya stabilisasi di perbatasan selatan, tempat konflik berkepanjangan antara militer Israel dan Hizbullah masih berlangsung. Laporan dari UNIFIL menyebutkan puluhan pelanggaran wilayah udara dan darat oleh pasukan Israel dalam beberapa pekan terakhir, yang dinilai melanggar resolusi PBB.
Sementara itu, PBB memperingatkan bahwa lebih dari 1,4 juta warga Lebanon kini membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak, dengan ribuan keluarga terpaksa mengungsi dari rumah-rumah yang hancur atau berada di zona pertempuran. Di tengah kehancuran itu, rumah sakit dan fasilitas medis pun tak luput dari serangan, memperparah krisis kesehatan yang sudah membludak.
Diplomasi internasional terus berjalan, namun upaya gencatan senjata permanen masih terhambat oleh ketidakpercayaan mendalam antara kedua belah pihak. Sementara itu, warga Lebanon di garis depan terus hidup dalam bayang-bayang ledakan dan keheningan yang menakutkan — setiap suara pesawat di langit bisa jadi tanda kematian berikutnya.

















