Sumbawanews.com,- Di tengah maraknya televisi seni yang menawarkan tampilan elegan seperti lukisan, Samsung The Frame Pro 2026 tetap menjadi raja yang tak tergoyahkan—meski harganya menembus $2.000. Dengan penyempurnaan halus namun signifikan di layar, sistem operasi, dan teknologi anti-silau, TV ini bukan sekadar perangkat hiburan, tapi sebuah karya seni digital yang hidup di dinding rumah.
Model terbaru ini tidak mengubah bentuk fisiknya secara radikal, tetapi setiap detailnya dirancang untuk memperdalam ilusi. Layar Neo QLED dengan kalibrasi warna Pantone bawaan menghadirkan kedalaman warna yang belum pernah terlihat di kelasnya. Lukisan Van Gogh’s *Starry Night* terasa nyaris hidup, dengan goresan kuas yang terlihat jelas bahkan di ruangan terang. Teknologi anti-silau baru yang diintegrasikan membuat cahaya matahari atau lampu ruangan tak lagi mengganggu—warna tetap tajam, tekstur tetap utuh, tanpa pantulan yang memecah imajinasi.
Kemudahan penggunaan juga mengalami lompatan besar. Sistem operasi One UI Tizen yang diperbarui membuat navigasi lebih alami: tidak perlu lagi mengandalkan aplikasi SmartThings di ponsel untuk pengaturan awal. Semua proses—dari login akun hingga pemilihan karya seni—terjadi langsung di layar. Hanya saja, untuk mengakses seluruh perpustakaan seni yang mencakup ribuan lukisan klasik hingga karya AI, pengguna tetap harus berlangganan seharga $4,99 per bulan. Ini menjadi titik lemah dibanding pesaing seperti Amazon Ember Artline yang menyediakan 2.000 gambar gratis tanpa biaya tambahan.
Salah satu keunggulan paling mencolok adalah kehadiran Wireless One Connect box. Kotak ini, yang ditempatkan tersembunyi di dalam kabinet, menjadi jembatan nirkabel antara konsol game, set-top box, dan TV. Hasilnya? Tak ada kabel menjuntai yang merusak estetika. Saya menghubungkan Xbox Series X dan PC gaming ke box ini, dan performa gaming mencapai 240 Hz tanpa lag—bahkan dalam judul bergrafik intens seperti *Crimson Desert* dan *Senua’s Saga: Hellblade II*, warna tetap hidup, gerakan tetap mulus.
Audio pun ditingkatkan dengan AI Sound Controller Pro yang mampu menaikkan volume suara narator sambil meredam kebisingan penonton saat menonton sepak bola. Meski fitur ini masih sering kembali ke pengaturan default tanpa diminta, dukungan Dolby Atmos tetap memberikan pengalaman imersif yang luar biasa, terutama saat menonton *Unbroken* melalui speaker Klipsch The Nines II.
Namun, bukan berarti tanpa cacat. Saat mencoba Google Cast untuk streaming *Alien: Romulus*, muncul error. AirPlay berjalan lancar, tetapi login Copilot gagal—masalah yang sedang ditanggapi tim Samsung. Fitur video seni yang dinamis, seperti yang ditawarkan Ember Artline, masih absen. Dan meskipun asisten suara Bixby bisa menghasilkan gambar AI berdasarkan kata kunci seperti “landskap” atau “kontemporer”, hasilnya belum seintuitif Alexa+ di pesaing.
Tetapi di titik paling krusial—realisme visual—The Frame Pro 2026 tak terkalahkan. Saat menampilkan gambar AT-AT dari *Star Wars* dengan latar langit gelap dan nuansa kayu burlwood yang dipasangkan, efeknya seperti lukisan asli yang baru saja diangkat dari galeri. Bahkan dalam tes benchmark Spears & Munsil, tonalitas kulit dan gradasi gelap di adegan senja terlihat jauh lebih kaya dibanding semua TV seni lain yang pernah saya uji.
Harganya memang mahal—$500 lebih tinggi dari model 2025. Tapi bagi yang menganggap dinding rumah sebagai galeri pribadi, bukan sekadar layar, The Frame Pro 2026 adalah investasi yang tak tergantikan. Ia bukan hanya menampilkan seni. Ia menjadi seni itu sendiri.
















