Home Serba Serbi Tekno Remaja Perempuan Terjebak Gelombang Media Sosial

Remaja Perempuan Terjebak Gelombang Media Sosial

Sumbawanews.com,- Jakarta – Penelitian panjang dari Murdoch Children’s Research Institute dan Deakin University di Australia mengungkapkan bahwa perempuan remaja menghadapi risiko depresi dua kali lebih tinggi dibanding laki-laki seiring meningkatnya durasi penggunaan media sosial. Studi yang melacak 1.200 remaja selama satu dekade di Melbourne menemukan, di usia 17–18 tahun, kedua kelompok sama-sama menghabiskan lebih dari dua jam per hari di depan layar. Namun, dampak psikologisnya jauh lebih dalam bagi perempuan.

Faktor kunci terletak pada fase perkembangan biologis dan neurologis yang tak sejalan. Perempuan biasanya memasuki pubertas satu hingga dua tahun lebih awal daripada laki-laki, saat bagian otak yang mengatur emosi—terutama yang terkait dengan persepsi diri dan penerimaan sosial—masih dalam tahap pematangan. Di saat itulah, banyak di antara mereka mulai aktif di media sosial, terpapar pada perbandingan tak sehat, tekanan estetika, dan dinamika sosial yang sering berubah menjadi konflik atau penolakan.

“Ini bukan sekadar soal waktu layar. Ini tentang kapan dan bagaimana mereka terpapar,” ujar Nandi Vijayakumar, salah satu peneliti utama, seperti dikutip dari Earth.com. “Masa remaja awal adalah jendela kritis—ketika otak paling rentan terhadap pengaruh lingkungan digital yang tidak mendukung kesehatan mental.”

Temuan ini diperkuat oleh studi serupa di Inggris, yang menemukan bahwa gadis berusia 11–13 tahun yang sering menggunakan platform media sosial melaporkan penurunan kepuasan hidup satu tahun kemudian. Sementara remaja laki-laki dan remaja perempuan yang lebih tua tidak menunjukkan pola serupa, menunjukkan bahwa dampaknya bersifat periode spesifik, bukan konsisten sepanjang masa remaja.

Namun, peneliti tidak menyimpulkan media sosial sebagai musuh mutlak. Susan Sawyer, peneliti lain yang terlibat, menekankan bahwa platform digital juga menjadi ruang dukungan, ekspresi kreatif, bahkan sumber penghasilan bagi banyak remaja. “Masalahnya bukan teknologinya, tapi bagaimana kita mengelolanya,” katanya. “Kita butuh regulasi berbasis usia, pendidikan literasi digital yang sistematis, dan peran orang tua yang lebih aktif—bukan hanya membatasi, tapi memahami.”

Pemerintah Australia baru-baru ini merespons dengan mengusulkan kebijakan pembatasan akses berdasarkan usia dan kewajiban platform untuk memperkuat fitur perlindungan mental. Di Indonesia, di mana pengguna media sosial remaja mencapai 87% menurut data Kominfo 2025, temuan ini menjadi alarm yang tak bisa diabaikan. Kebijakan yang hanya fokus pada pembatasan teknis tanpa pendekatan edukatif dan psikologis, dikhawatirkan akan gagal menjangkau akar masalah.

Dengan demikian, tantangan sebenarnya bukan pada seberapa lama remaja perempuan scroll, tapi pada bagaimana dunia digital—yang seharusnya menjadi jembatan—justru berubah menjadi cermin yang membelah harga diri mereka.

Previous articleBertahan 9 Tahun, Rezeki dari Kios BRILink di Tangerang
Next articleSatlak Tri Cakti dan Tim Gabungan Bongkar Upaya Penyelundupan 8 Ton Bijih Timah ke Luar Negeri, Selamatkan Potensi Penerimaan Negara Rp7,4 Miliar
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik