Sumbawanews.com,- Pada 2026, Mette-Marit resmi menjadi Ratu Norwegia setelah Putra Mahkota Haakon naik takhta sebagai Raja Haakon VIII menggantikan ayahnya, Raja Harald V, yang meninggal dunia. Perjalanan hidupnya dari seorang ibu tunggal non-bangsawan di Kristiansand menjadi sosok di puncak monarki Norwegia dipenuhi kontroversi, penerimaan, dan ujian berat. Pertemuannya dengan Haakon pada 1999 di festival musik Quart memicu hubungan yang awalnya ditolak publik karena masa lalunya di lingkungan musik house dan kehidupan yang dianggap melanggar norma kerajaan. Meski menolak label “Cinderella”, ia tetap menjadi simbol transformasi tak terduga dalam sejarah monarki modern.
Mette-Marit, yang lahir pada 19 Agustus 1973 dari keluarga jurnalis dan pegawai bank, pernah mengakui bahwa masa mudanya sengaja ia jalani sebagai bentuk pemberontakan terhadap norma sosial. Setelah menikah dengan Haakon pada 2001, ia berupaya membangun peran publiknya melalui pendidikan di University of Oslo dan School of Oriental and African Studies, fokus pada pembangunan internasional, HIV/AIDS, dan literasi. Ia menjadi duta PBB untuk HIV/AIDS dan aktif mempromosikan sastra Norwegia ke kancah global. Namun, citranya terguncang pada Januari 2026 ketika email pribadinya dengan Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seksual, bocor. Dalam salah satu pesan, ia menyebut reputasinya “tidak terlihat terlalu baik” dan meminta maaf kepada keluarga kerajaan. Skandal ini memicu penurunan dukungan publik terhadap monarki dari 70% menjadi 60%, dengan 47,6% warga Norwegia menyatakan ia seharusnya tidak menjadi ratu.
Krisis keluarga belum berhenti. Putra sulungnya, Marius Borg Høiby, dihukum empat tahun penjara pada Juni 2026 setelah dinyatakan bersalah atas dua dakwaan pemerkosaan dan satu dakwaan kekerasan dalam rumah tangga, meski ia membantah tuduhan berat dan mengajukan banding. Di tengah tekanan ini, Mette-Marit juga menghadapi masalah kesehatan kronis: fibrosis paru yang membuatnya kesulitan bernapas dan sering kelelahan, sehingga ia harus mengurangi kewajiban kerajaannya. Ia tidak pernah memberikan pernyataan publik tentang persidangan putranya, sementara Haakon menjadi suara resmi keluarga. Dalam wawancara dengan NRK, ia mengatakan berharap tidak pernah bertemu Epstein, menegaskan bahwa dirinya dimanipulasi dan ditipu.















