Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto tiba di Jawa Timur pada Selasa, 23 Juni 2026, dalam kunjungan kerja yang menggabungkan pembangunan infrastruktur dan kebangkitan peran ulama dalam tata negara. Dalam sehari, Kepala Negara meresmikan lebih dari seribu kilometer jalan nasional sekaligus menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026—dua momentum strategis yang mencerminkan komitmen pemerintah terhadap pemerataan pembangunan dan kestabilan sosial-budaya.
Rombongan Presiden yang terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma pukul 09.00 WIB, membawa sejumlah menteri kunci, termasuk Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Tujuan pertama adalah Kabupaten Sampang, tempat Presiden secara resmi membuka ruas jalan sepanjang 1.151 kilometer yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Proyek ini merupakan bagian dari Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD), yang dirancang untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mempercepat distribusi logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal—terutama di daerah tertinggal.
Setelah peresmian jalan, Presiden melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bangkalan, di mana beliau menghadiri penutupan Munas-Konbes NU di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil. Acara yang diikuti ribuan ulama, kiai, dan tokoh masyarakat ini menjadi ajang penting untuk menyatukan pandangan keagamaan dalam kerangka kebangsaan. Presiden dalam sambutannya menekankan peran strategis NU sebagai penjaga persatuan, sekaligus mitra utama pemerintah dalam membangun narasi kebangsaan yang inklusif dan berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Kehadiran Presiden di dua lokasi berbeda dalam satu hari bukan sekadar simbolis—ia menegaskan pendekatan pemerintah yang sekaligus membangun fisik dan spiritual bangsa. Infrastruktur jalan menjadi urat nadi ekonomi, sementara Munas-Konbes NU menjadi jantung kehidupan sosial keagamaan yang menopang stabilitas nasional.
Dengan demikian, kunjungan ini bukan hanya serangkaian agenda teknis, tetapi juga pesan politik yang mendalam: pembangunan Indonesia tak bisa dipisahkan dari kekuatan moral dan kearifan lokal yang tumbuh dari akar masyarakat.















