Home Berita Nasional Gorengan di Pagi Hari, Cita-cita di Langit

Gorengan di Pagi Hari, Cita-cita di Langit

Sumbawanews.com,- Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk kota, seorang gadis kecil berjalan kaki 15 menit setiap pagi, membawa 150 potong gorengan yang masih hangat. Bukan untuk hiburan, bukan untuk sekadar mencari uang saku—tapi untuk bertahan hidup, dan mempertahankan haknya untuk bersekolah.

Suci Nurlaela, 10 tahun, akrab dipanggil Uci, adalah anak yatim piatu yang hidup bersama bibinya di Desa Campaka Mekar, Kabupaten Bandung Barat. Ayah dan ibunya telah tiada. Kakeknya yang dulu merawatnya pun telah pergi. Tanpa dukungan finansial, tanpa jaminan masa depan, Uci memilih untuk tidak menyerah. Ia bangun pukul 5 pagi, menggoreng pisang, tahu, dan bakwan di dapur kecil rumahnya, lalu membawa hasilnya ke sekolah—dijual satu per satu di pinggir jalan, di depan gerbang kelas, bahkan sebelum bel tanda masuk berbunyi.

Harga per potong hanya Rp1.000. Tapi dari penjualan itu, ia menyumbang nasi untuk makan siang keluarga, membeli buku tulis, dan menutup biaya transportasi ke sekolah. Setelah habis di pagi hari, ia kembali ke rumah untuk menggoreng lagi 50 potong—dijual kembali di sekitar lingkungan sekolah hingga siang menjelang. Di rumah, ia juga membantu menjual aneka snack, sambil tetap mengejar nilai rapor yang selalu membanggakan.

“Saya mau jadi pramugari,” ucap Uci dengan mata bersinar, tanpa sedikit pun keraguan. Ia tak pernah naik pesawat, tapi sering melihat gambar pramugari di buku pelajaran atau di TV. “Mereka cantik, sopan, dan bisa bawa orang ke mana-mana. Kalau saya jadi pramugari, saya bisa bantu uwa, beli rumah yang bagus, dan tidak perlu jual gorengan lagi.”

Kisahnya terungkap melalui tim [berbuatbaik.id](https://www.berbuatbaik.id/), yang mengenali Uci sebagai salah satu anak paling gigih di antara ratusan kasus bantuan yang mereka tangani. Relawan Nanik, yang rutin mendampinginya, mengatakan Uci bukan hanya anak yang patuh, tapi juga penuh kebijaksanaan di usia yang masih sangat belia. “Dia tidak pernah mengeluh. Bahkan saat cuaca hujan, dia tetap bawa gorengan. Katanya, ‘Kalau hari hujan, orang-orang butuh makanan hangat.’”

Di tengah keterbatasan, Uci justru menemukan kekuatan. Ia tahu persis bahwa pendidikan adalah satu-satunya jembatan menuju kehidupan yang berbeda. Ia tidak meminta belas kasihan—hanya meminta kesempatan.

Kini, lewat kampanye [berbuatbaik.id](https://www.berbuatbaik.id/donasi/421/sambil-jual-gorengan-tiap-pagi-uci-ingin-sekolah-hingga-jadi-pramugari), masyarakat diajak untuk menjadi bagian dari mimpi Uci. Bukan hanya untuk membiayai sekolahnya, tapi juga untuk membuktikan bahwa di balik setiap gorengan yang dijual, ada harapan yang tak pernah padam.

Di sebuah desa kecil di Jawa Barat, seorang anak kecil sedang menggoreng masa depannya—satu per satu, dengan sabar, dengan cinta, dan dengan tekad yang tak tergoyahkan.

Previous articlePresiden Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan dan Hadiri Munas-Konbes NU di Jatim
Next articleGelombang Tinggi 4 Meter Mengancam Pantai Selatan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik