Sumbawanews.com,- Populasi Uni Eropa diprediksi mencapai puncaknya pada 2029 dengan jumlah 453,3 juta jiwa, sebelum mulai menurun secara bertahap hingga menyisakan 398,8 juta jiwa pada 2100. Proyeksi ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari Joint Research Centre (JRC), lembaga riset resmi Komisi Eropa, yang dirilis pada Selasa. Saat ini, populasi UE berada di angka 450,6 juta jiwa di 27 negara anggota. Penurunan ini diperkirakan akan membawa jumlah penduduk kembali ke tingkat yang terakhir tercatat pada era 1970-an.
Peningkatan angka harapan hidup menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan demografi ini. Pada 2024, harapan hidup saat lahir di UE mencapai 81,5 tahun, dan diproyeksikan terus naik hingga melampaui 90 tahun bagi perempuan dan 86 tahun bagi laki-laki pada 2100. Pada 2050, hampir satu dari tiga warga UE akan berusia 65 tahun atau lebih, meningkat dari saat ini yang baru sekitar satu dari lima.
Tantangan besar muncul akibat penuaan populasi, termasuk kekurangan tenaga kerja, tekanan pada sistem kesehatan, dan beban anggaran pemerintah yang meningkat. Komisioner Uni Eropa untuk Demokrasi dan Demografi, Dubravka Suica, menyatakan bahwa hidup lebih lama dan lebih sehat adalah pencapaian besar, namun perubahan ini juga mengubah struktur ekonomi dan pasar tenaga kerja. Ia menekankan perlunya langkah strategis agar perubahan demografi menjadi peluang, bukan beban.
Di sisi lain, munculnya ekonomi lansia (silver economy) menawarkan potensi pertumbuhan baru, dengan meningkatnya permintaan terhadap layanan kesehatan, teknologi pendukung, dan produk konsumsi untuk kelompok usia lanjut. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, UE menilai pentingnya meningkatkan produktivitas dan menurunkan tingkat pengangguran, terutama karena sekitar 20 persen penduduk usia kerja belum terlibat di pasar tenaga kerja, dan delapan juta anak muda masih dalam kategori NEET (tidak bekerja, tidak sekolah, tidak pelatihan). Meski migrasi dianggap bisa membantu meredam dampak, para peneliti menegaskan bahwa migrasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan tantangan penuaan penduduk di Eropa.















