Sumbawanews.com,- Komisi X DPR RI menilai pagu awal Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk Tahun Anggaran 2027 jauh dari cukup untuk mendukung program literasi nasional yang strategis. Menanggapi kekhawatiran ini, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengajukan revisi usulan anggaran sebesar Rp357,77 miliar, sehingga total permintaan dana menjadi Rp725,50 miliar.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa keterbatasan anggaran saat ini berisiko menghambat pencapaian visi pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. “Penguatan anggaran untuk Perpusnas bukan sekadar kebutuhan teknis, tapi keharusan moral untuk menjaga peradaban bangsa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).
Dukungan politik dari DPR ini menjadi sinyal kuat bahwa lembaga yang menjadi pusat penyebaran pengetahuan nasional itu perlu segera diperkuat. Perpusnas menekankan bahwa dana tambahan akan digunakan untuk memperluas akses layanan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), mempercepat transformasi digital perpustakaan, melestarikan khazanah budaya nusantara, serta memperkuat jaringan kerja sama dengan perpustakaan daerah dan sekolah-sekolah.
Aminudin menjelaskan, sebelumnya anggaran yang dialokasikan tidak mampu menopang program-program prioritas yang telah dirancang sejak tahun lalu. “Kami tidak bisa lagi menunda. Tanpa suntikan dana ini, ribuan titik layanan perpustakaan di pelosok akan terhenti, dan generasi muda kehilangan akses ke sumber pengetahuan yang seharusnya menjadi hak dasar mereka,” katanya.
Permintaan ini telah disampaikan secara resmi kepada Menteri Keuangan dan Menteri PPN/Kepala Bappenas sebagai tindak lanjut dari pembahasan bersama Komisi X DPR RI. Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan strategis: memprioritaskan anggaran untuk infrastruktur fisik atau membangun fondasi intelektual bangsa melalui literasi.
Dengan anggaran yang memadai, Perpusnas berjanji akan menjadikan perpustakaan bukan sekadar gedung berisi buku, tapi pusat kecerdasan kolektif yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia.
















