Sumbawanews.com,- Perjalanan darat selama enam jam dari Boston ke New York melalui Interstate 95 menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas para jurnalis yang meliput Piala Dunia 2026. Dengan menggunakan bus FlixBus sebagai transportasi utama, tim liputan KLY Sports harus menyelesaikan pekerjaan jurnalistik di tengah perjalanan—mengedit foto, mengirim video laporan, dan menulis analisis pertandingan sambil menempuh jarak 350 kilometer yang seharusnya bisa ditempuh dalam empat jam jika tidak terjebak kemacetan menjelang kawasan metropolitan New York.
Biaya perjalanan sekitar Rp720 ribu membuat bus menjadi pilihan lebih ekonomis dibandingkan kereta yang harganya mencapai Rp4,8 juta. Meski kenyamanan armada tidak selevel dengan bus-bus di Indonesia, koneksi Wi-Fi yang stabil di dalam bus justru menjadi tulang punggung operasional redaksi berjalan. Di dalam kabin yang sederhana, laptop menjadi meja kerja, dan jalan tol menjadi jalur komunikasi antara lapangan dan redaksi di Jakarta.
Perjalanan yang melelahkan itu berakhir di titik pemberhentian sederhana di Midtown Manhattan—bukan terminal megah, melainkan halte pinggir jalan yang langsung menyatu dengan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Suasana New York yang ramai, aroma khas kota besar, hingga poster-poster raksasa Piala Dunia 2026 yang menghiasi gedung-gedung tinggi menjadi pengingat bahwa dunia sedang menatap kota ini. Tanpa waktu untuk beristirahat, tim langsung melanjutkan perjalanan menuju MetLife Stadium di East Rutherford, New Jersey, tempat laga-laga penentu gelar juara akan digelar.
Di balik setiap berita yang dibaca jutaan orang, ada perjalanan panjang yang tak terlihat—di mana pekerjaan jurnalistik tak pernah berhenti, bahkan saat tubuh lelah dan waktu terbatas. Bagi para peliput, bukan hanya stadion yang menjadi panggung, tapi juga jalan raya yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya.















