Sumbawanews.com,- Pada 3 Agustus, dua peristiwa bersejarah yang terpisah ruang dan waktu terjadi: berakhirnya Perang Padri di Sumatera Barat pada 1837, dan pembunuhan Wakil Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Izuddin Qalq, oleh agen Mossad di Paris pada 1972.
Pada 1837, Letkol Andreas Victor Michiels berhasil menggantikan Eerens dalam operasi militer Belanda yang memicu jatuhnya Bonjol, pusat perlawanan kaum Padri. Perang yang berlangsung sejak 1803 ini, awalnya bermula dari konflik internal soal ajaran agama, berubah menjadi perjuangan melawan penjajahan kolonial di kawasan Kerajaan Pagaruyung. Kemenangan Belanda di Bonjol menjadi titik akhir dari perang panjang yang memakan waktu lebih dari tiga dekade.
Sementara itu, pada 3 Agustus 1972, Izuddin Qalq, salah satu tokoh senior PLO, ditembak mati di jalan Paris oleh agen Mossad, dinas intelijen Israel. Pembunuhan itu terjadi dalam rangka operasi balas dendam pasca serangan teroris Oktober 1972 yang menewaskan atlet Israel di Olimpiade Munich. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai lokasi tepat atau metode pembunuhan dalam sumber asli, namun fakta bahwa Qalq tewas akibat aksi Mossad di Paris tetap menjadi inti peristiwa tersebut.
Tidak ada peristiwa lain yang disebutkan secara eksplisit dalam sumber selain dua peristiwa ini.















