Sumbawanews.com,- Prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang gugur dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari 2026, akan berlangsung secara bertahap dari 4 hingga 9 Juli 2026. Upacara nasional yang diprediksi menarik hingga 20 juta orang ini akan dimulai di ibu kota Teheran, berlanjut ke kota suci Qom, dan berakhir di Mashhad—kota kelahirannya—di mana jenazahnya akan dimakamkan di kompleks Imam Reza, sesuai permintaan terakhirnya.
Pemerintah Iran mengumumkan rencana pemakaman ini melalui televisi negara pada Sabtu, menyatakan bahwa prosesi akan berlangsung selama lima hari, dengan setiap tahap menjadi simbol kesatuan nasional dan solidaritas umat Islam. Di Teheran, pada 4 Juli, jenazah akan diterima dengan upacara militer dan doa massal di alun-alun utama, sebelum dibawa ke Qom pada 7 Juli, pusat keilmuan Syiah yang menjadi tempat peristirahatan para ulama besar. Puncaknya, pada 9 Juli, jenazah akan dibawa ke Mashhad dalam konvoi panjang yang diperkirakan melintasi ratusan kota dan desa, diiringi jutaan warga yang berbaris di sepanjang jalan.
Kehilangan Khamenei bukan hanya kehilangan seorang pemimpin, tapi juga simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat. Ia tewas dalam serangan yang menargetkan kediamannya di Jalan Palestina, Teheran, bersama istri, menantu perempuan, dan cucu berusia 14 bulan. Serangan itu memicu balasan militer Iran yang melibatkan serangan rudal dan drone terhadap pangkalan AS di Teluk serta wilayah Israel, sebelum gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April lalu.
Mojtaba Khamenei, putra sulungnya yang terluka dalam serangan itu, telah resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Para Ahli pada awal Maret 2026. Meski belum muncul di depan umum sejak pengangkatannya, Mojtaba telah menyampaikan beberapa pernyataan melalui media resmi, menegaskan komitmen Iran untuk melanjutkan jalur perlawanan dan menjaga stabilitas internal di tengah tekanan geopolitik yang semakin berat.
Wakil Walikota Teheran, Mohammad Amin Tavakkoli-Zadeh, memperkirakan lebih dari 15 juta orang akan memadati ibu kota selama tiga hari pertama prosesi, sementara ribuan warga dari Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, dan India juga diperkirakan akan datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Pemerintah telah menyiapkan ratusan ribu petugas keamanan, posko medis, dan tempat ibadah sementara untuk menangani arus besar jemaah yang datang dari seluruh penjuru negeri.
Upacara ini tidak hanya menjadi momen duka, tapi juga manifestasi kekuatan ideologis Republik Islam Iran. Dengan Khamenei yang dianggap sebagai martir oleh pendukungnya, pemakamannya menjadi ritual politik sekaligus spiritual—mengukuhkan legitimasi kepemimpinan baru, memperkuat narasi perlawanan, dan menegaskan bahwa kematian seorang pemimpin tidak menghentikan perjalanan sebuah revolusi.

















