Home Berita Internasional Pemakaman Ali Khamenei Jadi Simbol Perlawanan Terhadap AS

Pemakaman Ali Khamenei Jadi Simbol Perlawanan Terhadap AS

Sumbawanews.com,- Ribuan warga Iran memadati jalan-jalan Teheran pada 6 Juli 2026 dalam prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas dibunuh, mengubah momen duka menjadi demonstrasi kekuatan nasional dan seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat. Di tengah hiruk-pikuk drum, spanduk bertuliskan “bunuh Trump”, dan bendera raksasa yang dikibarkan dari truk, para pelayat menyerukan keinginan untuk membangun senjata nuklir dan menghancurkan AS serta Israel sebagai bentuk keadilan atas kematian sang pemimpin. Bukan sekadar upacara keagamaan, prosesi itu menjadi panggung bagi rakyat dari berbagai lapisan sosial—dari lansia di kursi roda hingga insinyur dan dokter—yang menyatakan bahwa Iran telah bertahan melawan tekanan adidaya dan siap melanjutkan perlawanan. Di bawah terik matahari 36 derajat Celsius, banyak yang menganggap kematian Khamenei bukan akhir, melainkan awal dari misi baru: memperkuat posisi Iran di kancah global, bahkan jika harus mengorbankan segalanya.

Banyak peserta menyatakan bahwa kehadiran jutaan orang di jalanan adalah bukti bahwa dukungan terhadap Republik Islam tak tergoyahkan, meski tidak semua warga setuju dengan kebijakan pemerintah. Fatima Zadeh, salah satu pelayat, menegaskan, “Kami datang bukan untuk menangis, tapi untuk bersatu dan memperoleh kekuatan.” Sementara itu, Ali Sayadian, ulama yang menempuh perjalanan 1.000 kilometer dari Yasuj, berseru, “Kami berhak menuntut pembalasan.” Di antara ratusan spanduk berbahasa Inggris dan Farsi, pertanyaan retoris muncul: “Apakah Hiroshima akan diserang jika Jepang punya senjata nuklir?” dan “Mengapa Israel boleh punya nuklir, tapi Iran tidak?”

Sejumlah peserta, seperti Mohammad Mousabvi, pelatih senam berusia 50 tahun, memandang peristiwa ini sebagai benturan peradaban—antara peradaban Islam yang berlandaskan Nabi Muhammad, Musa, dan Isa, melawan peradaban neoliberal Barat yang ia sebut “jalan buntu.” Di luar gerbang Universitas Teheran, profesor kedokteran Moftabva Karbvasi menilai bahwa AS kini menyadari tidak akan berani menyerang Iran lagi. Jenazah Khamenei dan empat anggota keluarganya yang gugur pada 28 Februari kini telah tiba di Qom, dan akan dilanjutkan ke Najaf dan Karbala di Irak sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad, tempat peristirahatan terakhir Imam Reza, menyempurnakan rangkaian perjalanan suci yang menjadi simbol ketahanan bangsa.

Previous articleDesak Made Klarifikasi Pernyataan Usai Raih Emas di Krakow
Next articlePerpustakaan Nyi Ageng Serang di Jakarta Buka Hingga Pukul 22.00