Sumbawanews.com,- PDI Perjuangan secara resmi meluncurkan lagu berjudul “Bung Karno Bapak Marhaenisme” dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, sekaligus menegaskan kembali komitmen partai terhadap ideologi yang dicetuskan oleh pendiri bangsa. Peluncuran lagu ini dilakukan dalam acara Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota Fraksi PDIP DPRD se-Indonesia di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Lagu yang diputar sebagai bagian dari protokol kepartaian itu bukan sekadar simbolis, melainkan alat pemersatu dan pengingat bagi seluruh kader tentang akar perjuangan partai. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menekankan, lagu ini wajib dinyanyikan dalam setiap kegiatan resmi partai yang mengikuti protokol kepartaian. “Ini adalah pengingat bahwa esensi perjuangan kita adalah memihak kepada rakyat kecil—kaum Marhaen. Di Bulan Bung Karno, kita tidak hanya mengenang, tapi membumikan ajarannya dalam setiap kebijakan,” ujar Djarot.
Lagu ini menggema dengan lirik yang sederhana namun penuh makna:
*Rakyat Marhaen Majulah Bersatu
Membangun Dunia yang Baru
Satukanlah Gerak Langkahmu
Turut Komando yang Satu
Hiduplah Bung Karno Kita
Bapak Marhaenisme Jaya
Hiduplah Pemimpin Kita
Marhaenisme Pastilah Jaya*
Djarot menambahkan, lagu ini juga mengingatkan sejarah lahirnya konsep Marhaenisme—ideologi yang digagas Soekarno setelah bertemu seorang petani miskin bernama Marhaen di Priangan pada tahun 1920-an. Nama “Marhaen” kemudian menjadi simbol bagi rakyat kecil yang tertindas oleh sistem kolonial dan kapitalis, namun memiliki kekuatan untuk bangkit dan meraih kemandirian. Sejak saat itu, Marhaenisme menjadi jiwa perjuangan Bung Karno dalam membebaskan bangsa dari penjajahan.
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang tak hadir langsung dalam acara tersebut, tetap menjadi inspirasi utama. Dalam berbagai kesempatan, Megawati kerap menegaskan bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan terletak pada citra atau strategi elektoral, melainkan pada kedekatan fisik dan emosional dengan rakyat. “Turun ke lapangan, dengar keluh kesah mereka, rasakan penderitaan mereka—itulah yang membuat perjuangan kita otentik,” demikian pesan yang kerap disampaikan Megawati kepada kader.
Lagu ini menjadi bagian dari upaya PDIP memperkuat identitas ideologis di tengah dinamika politik nasional yang semakin kompleks. Dengan menghidupkan kembali simbol-simbol historis, partai berusaha menanamkan kesadaran bahwa perjuangan politik bukan sekadar merebut kursi, tapi mempertahankan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan lagu ini, PDIP tidak hanya mengenang masa lalu—tapi menyerukan panggilan untuk bertindak.















