Home Berita Nasional Pak Haji Malam Hari Sebar Rezeki di Trotoar Jakarta

Pak Haji Malam Hari Sebar Rezeki di Trotoar Jakarta

Sumbawanews.com,- Di tengah heningnya malam Jakarta, sebuah mobil Kijang Innova putih melintas perlahan di sepanjang Jalan Panglima Polim. Jendela dibuka, tangan mengulurkan lembaran-lembaran uang Rp50 ribu—tanpa kata, tanpa sorot kamera, tanpa pengumuman. Warga yang sudah menunggu sejak pukul 22.00, duduk rapi di trotoar, tak berdiri, tak mengerumuni. Mereka hanya menunggu. Dan ketika mobil itu lewat, rezeki pun turun seperti hujan tanpa awan.

Sosok yang mereka panggil “Pak Haji” tak pernah turun dari mobil. Tak pernah memperkenalkan diri. Tak pernah meminta ucapan terima kasih. Tapi kehadirannya—meski tak terjadwal—telah menjadi ritual tak terucap bagi ratusan tuna wisma, pemulung, dan pengamen di sekitar Jakarta Selatan. Sudah dua tahun ia datang, kadang seminggu sekali, kadang dua kali, biasanya pada Senin dan Kamis, setelah tengah malam. Lokasinya berpindah: dari MRT Blok A, Mampang, Pasar Rumput, hingga Senen. Semua titik itu kini menjadi “stasiun rezeki” yang tak terdaftar di peta kota.

Tian, pria paruh baya yang menderita stroke, mengaku uang Rp50 ribu itu cukup untuk makan tiga hari. Ia tinggal di masjid, tak punya pekerjaan tetap, dan hanya mengandalkan sedekah. “Kalau Pak Haji datang, kita bersyukur. Kalau tidak, ya kita sabar. Ini bukan hak, ini anugerah,” katanya sambil menatap jalan yang sepi.

Bukan hanya Tian. Wahyu, seorang sopir bajaj, juga menunggu setiap malam. Ia mengaku pernah mendapat Rp100 ribu dari Pak Haji—untuk warga lanjut usia. Tapi yang lebih menarik, ia bercerita tentang “Bogel”, seorang ajudan yang kadang datang dengan sepeda motor, membagikan uang atas nama Pak Haji. Informasi kedatangan sang dermawan, menurut Wahyu, hanya tersebar lewat grup WhatsApp tertutup. Di sana, ada nomor kontak ajudan, daftar titik pembagian, dan peringatan: jangan pindah-pindah lokasi. “Kalau sudah dapat di Panglima Polim, jangan ikut ke Mampang. Nanti dilewati,” ujarnya serius.

Pembagian uang ini bukanlah kegiatan spontan. Ini adalah sistem yang terorganisir—tanpa nama, tanpa logo, tanpa akun sosial media. Yang ada hanyalah kepercayaan. Kepercayaan bahwa ada seseorang yang peduli, yang tak ingin dikenal, yang memilih malam sebagai waktu terbaik untuk memberi—ketika dunia tidur, dan yang miskin tak lagi disembunyikan.

Pernah, sebelum pandemi, Pak Haji turun langsung dari mobil. Kini, demi keamanan dan kenyamanan semua pihak, ia memilih tetap di dalam. Bahkan, razia gabungan Satpol PP, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas yang kerap terjadi—seperti yang menangkap 29 orang dalam satu malam beberapa minggu lalu—tak membuat warga berhenti menunggu. “Kami tak takut ditangkap. Tapi takut kalau Pak Haji datang dan kami tidak ada di sini,” kata Ana, pemulung yang sudah 15 tahun mengais hidup di jalanan.

Kedatangannya tak bisa diprediksi. Ada yang menunggu dari pukul 23.00 hingga 03.30 pagi—tanpa hasil. Tapi esok harinya, mereka kembali. Karena dalam ketidakpastian itu, ada harapan. Dan harapan, bagi mereka yang hidup di tepi kota, adalah satu-satunya mata uang yang tak pernah inflasi.

Pak Haji mungkin tak pernah muncul di berita utama. Tak pernah diundang ke istana. Tak pernah dapat penghargaan. Tapi di trotoar-trotoar Jakarta, di bawah bayangan MRT, di antara debu dan dinginnya malam, namanya diucapkan dengan hormat. Bukan sebagai tokoh publik. Tapi sebagai rahmat yang datang tanpa suara—dan pergi tanpa jejak.

Previous articlePaket Nikah Murah, Tapi Pemiliknya Residivis
Next articleJawa Barat Diguncang 136 Kali Gempa dalam Sebulan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik