Sumbawanews.com,- Pada 6 September 2026, setelah Timnas Indonesia U-20 menang 2-0 atas Australia di Stadion Nasional Laos, Daniel Olaniran—pembuat konten asal Sydney yang dikenal sebagai “OlanTekkers” dan mantan pesepak bola—memicu gejolak besar di media sosial Indonesia. Dalam unggahan TikToknya, ia menyatakan bahwa orang-orang di Indonesia “tidak mengerti cara bermain sepak bola,” sebuah komentar yang langsung memicu kemarahan luas dari warganet dan sejumlah pemain Garuda Nusantara. Kemenangan itu mengantarkan Indonesia lolos ke Piala Asia U-20 2027, sekaligus mengeliminasi Australia sebagai juara bertahan.
Olaniran, yang pernah bermain untuk Luton Town FC, RKSV Achilles ’29, dan North Shore Mariners FC, serta kini aktif sebagai kreator konten lewat agensi Born Bred Talent, dikenal publik dengan persona “failed footballer” yang sukses beralih ke dunia digital. Ia lulusan Sarjana Psikologi dari University of Mount Olive dan pernah berkolaborasi dengan merek-merek global. Namun, pernyataannya yang dianggap merendahkan tim muda Indonesia itu mengubah narasi popularitasnya menjadi kontroversi.
Reaksi tak terduga datang dari para pemain Timnas U-20 sendiri. Welber Jardim menyerukan agar Olaniran menghormati Indonesia, sementara Timoty Baker memberikan sindiran tajam di kolom komentar Instagram miliknya. Hujatan dari ribuan warganet pun membanjiri akun media sosial Olaniran, mengubah topik olahraga menjadi isu nasional yang memicu diskusi tentang rasa hormat, identitas, dan kebanggaan sepak bola.
Sementara itu, Timnas Indonesia U-20 telah beralih fokus menatap Piala Asia U-20 2027 di China—tiket pertama menuju Piala Dunia U-20 2027—dengan semangat yang justru semakin membara setelah insiden ini. Di tengah gelombang kecaman, skuad Garuda Nusantara memilih menjadikan kekalahan Australia sebagai motivasi, bukan bahan perdebatan.















