Home Berita Nasional Momentum Hijrah: Menag Ajak Umat Transformasi Diri dan Sosial

Momentum Hijrah: Menag Ajak Umat Transformasi Diri dan Sosial

Sumbawanews.com,- Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah 1448 sebagai titik balik untuk merevitalisasi diri dan membangun masyarakat yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berbasis kasih sayang. Dalam peringatan 1 Muharram di Jakarta, ia menegaskan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan revolusi sosial yang menggantikan sistem kabilah yang sempit dan primordial dengan tatanan umat yang kosmopolitan dan beradab.

“Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan,” tegas Menag. “Dari masyarakat yang terikat oleh darah dan suku, menjadi komunitas yang bersatu oleh visi, kepemimpinan yang berwibawa, dan ikatan kasih sayang.”

Menag menjelaskan bahwa sebelum Islam, masyarakat Arab terpecah dalam kelompok-kelompok sempit: *kabilah* yang berbasis kekerabatan, *sya’abun* yang berakar pada keluarga besar, *qawmun* yang terbentuk dari kesepakatan sosial, dan *hizbun* yang berwujud partai politik. Namun, Islam memperkenalkan konsep *ummah*—suatu komunitas yang dipersatukan oleh empat pilar: kasih sayang, orientasi masa depan, kepemimpinan yang dipercaya, dan masyarakat yang santun serta taat dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut *imamah*.

“Kalau keempat unsur itu ada, barulah kita bisa menyebutnya umat,” ujarnya.

Ia lalu mengajak umat Islam di Indonesia untuk melakukan refleksi mendalam: apakah masyarakat kita sudah benar-benar menjadi umat, atau masih terjebak dalam mentalitas kabilah—tertutup, eksklusif, dan terbelah oleh identitas suku, daerah, atau kelompok politik? Menurutnya, ciri utama mentalitas kabilah adalah penutupan akses kepemimpinan bagi yang di luar lingkaran tertentu. Sementara dalam umat yang sejati, kesempatan memimpin terbuka lebar bagi siapa pun yang memiliki kapasitas dan kepercayaan masyarakat, tanpa memandang latar belakang.

Namun, Menag mengingatkan bahwa keterbukaan saja tidak cukup. Persatuan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap yang lemah harus menjadi fondasi yang terus diperkuat. “Tanpa itu, kita hanya punya keragaman, bukan persatuan. Tanpa kasih sayang, kita hanya punya jumlah, bukan umat.”

Peringatan Tahun Baru Hijriah, lanjutnya, bukan sekadar ritual kalender, melainkan ajakan untuk berhijrah—dari egoisme menuju kebersamaan, dari kebencian menuju rekonsiliasi, dari fragmentasi menuju integrasi. “Mari kita jadikan Muharram ini sebagai awal baru: bukan hanya untuk mengenang sejarah, tapi untuk membangun masa depan yang lebih manusiawi.”

Dengan demikian, transformasi yang diminta Menag bukan hanya perubahan individual, tapi perubahan struktural—dari masyarakat yang terpecah, menjadi satu kesatuan yang berdiri di atas nilai-nilai universal Islam: keadilan, kepedulian, dan kemanusiaan.

Previous articleSony Sonjaya Akan Diperiksa Kejagung sebagai JC
Next articleBest Office Chairs for Every Budget and Body
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.