Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi panggung terakhir Lionel Messi di kancah sepak bola internasional. Di usia 39 tahun, kapten Argentina itu telah memastikan tampil dalam enam edisi Piala Dunia—rekor tak terkejar dalam sejarah turnamen. Dengan lima gol dalam dua laga grup di turnamen kali ini, Messi tak hanya mempertahankan dominasinya, tetapi juga memperkuat legenda yang sudah ia bangun selama dua dekade.
Sejak mengangkat trofi juara di Qatar 2022, Messi tak pernah benar-benar melepaskan seragam tim nasional. Meski telah pindah ke Inter Miami di MLS, ia tetap menjadi jantung dan otak permainan Argentina. Di Piala Dunia 2026, ia kembali menorehkan sejarah: 18 gol, 28 penampilan, 18 kemenangan, dan 2.489 menit bermain—semua rekor terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, menurut Guinness World Records. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah bukti ketahanan, konsistensi, dan kejeniusan yang tak tergantikan.
Media Inggris, termasuk The Athletic dan BBC Sport, melaporkan bahwa Messi telah berbicara secara pribadi dengan tim teknis Argentina bahwa turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini akan menjadi penutup karier internasionalnya. Ia ingin mengakhiri perjalanan dengan cara yang bermartabat—bukan karena kelelahan, tapi karena ia ingin memberi ruang bagi generasi muda, sambil memastikan bahwa ia meninggalkan warisan yang tak tergoyahkan.
Cristiano Ronaldo, yang juga berusia 39 tahun, diperkirakan akan mengikuti jejaknya. Keduanya, yang selama 18 tahun menjadi simbol rivalitas terbesar dalam sejarah sepak bola, kini bersiap untuk menutup babak terakhir mereka di panggung tertinggi. Tidak ada yang tahu apakah Argentina akan meraih gelar kedua berturut-turut, atau apakah Messi akan mencetak gol penutup di final. Yang pasti, ketika peluit panjang berbunyi di akhir laga terakhirnya, dunia akan berhenti sejenak—bukan hanya karena kehilangan seorang pemain, tapi karena kehilangan sebuah era.
Messi bukan sekadar pemain. Ia adalah arsitek mimpi, penjaga tradisi, dan simbol bahwa kecemerlangan bisa bertahan bahkan ketika waktu berjalan lebih cepat dari harapan. Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen terakhirnya—ia adalah *last dance* yang telah ditulis dalam sejarah, dan dunia siap menyaksikannya dengan hati yang penuh rasa syukur.















