Sumbawanews.com,- Lionel Messi resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia setelah membawa Argentina menang 2-0 atas Austria di Texas, Selasa (23/6/2026). Gol kedua sang kapten di menit ke-38—sebuah tembakan akurat dari kaki kiri setelah serangan balik mematikan—mengantarkannya melewati rekor Miroslav Klose di angka 16 gol, menjadi 17 gol di ajang empat tahunan itu.
Namun, kegembiraan di sisi Argentina langsung tercoreng oleh protes keras dari legenda sepak bola Eropa, Peter Schmeichel. Dalam siaran langsung di FOX Sports, mantan kiper Manchester United itu menyatakan bahwa gol tersebut seharusnya dianulir. Menurut Schmeichel, sebelum bola masuk ke gawang Austria, gelandang Argentina Alexis Mac Allister melakukan pelanggaran berupa tendangan dari belakang terhadap pemain lawan, Xaver Schlager, dalam proses merebut bola di lini tengah.
“Ini bukan sekadar kontroversi kecil. Ini adalah pelanggaran jelas yang mengganggu alur permainan sebelum gol tercipta,” ujar Schmeichel. “VAR wajib meninjau ulang. Wasit gagal melihatnya, tapi teknologi ada untuk memperbaiki kesalahan semacam ini.”
Pernyataan Schmeichel langsung memicu perdebatan sengit di kalangan pakar, mantan pemain, dan fans. Sebagian mendukung pandangannya, terutama yang menyoroti kejelasan rekaman ulang yang menunjukkan kaki Mac Allister mengenai betis Schlager saat berebut bola. Namun, tim wasit dan FIFA tetap mempertahankan keputusan di lapangan—gol tetap sah, dan rekor Messi tetap tercatat dalam buku sejarah Piala Dunia.
Messi sendiri, yang kini berusia 39 tahun, tak memberikan komentar langsung setelah laga. Ia hanya mengangguk pada sorakan penonton dan menunjuk ke arah timnya, seolah mengalihkan fokus dari kontroversi ke kemenangan tim. Sebelumnya, ia juga gagal mengeksekusi penalti di menit ke-12—kesalahan penalti ke-33 dalam karier profesionalnya—namun bangkit dengan performa klasiknya yang tak terbantahkan.
Rekor ini bukan sekadar angka. Ini adalah puncak dari perjalanan 20 tahun Messi di pentas dunia, dari debutnya di Piala Dunia 2006 hingga kini, di mana ia menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di lima edisi berbeda. Dengan 17 gol dan 8 assist, ia kini memegang rekor sekaligus menjadi simbol ketahanan, konsistensi, dan kejeniusan teknis yang tak tergantikan.
Sementara itu, Schmeichel menegaskan bahwa kritiknya bukanlah serangan terhadap Messi, melainkan soal integritas permainan. “Lionel adalah yang terbaik. Tapi sepak bola bukan tentang siapa yang terbaik. Ini tentang aturan yang ditegakkan secara adil—untuk semua, tanpa pengecualian.”
Dengan keputusan FIFA yang tetap mempertahankan gol, rekor Messi kini resmi diakui. Namun, debat tentang keadilan dalam teknologi VAR dan batas antara kecerdikan dan pelanggaran—yang dihidupkan kembali oleh Schmeichel—akan terus bergema di ruang-ruang diskusi sepak bola, bahkan setelah piala telah diserahkan.















