Sumbawanews.com,- Lionel Messi kembali mengenakan jersey Inter Miami pada Kamis (13/8/2026), hanya lima hari setelah memakamkan ayahnya, Jorge Messi, yang meninggal dunia pada usia 68 tahun di Rosario pada Sabtu (8/8/2026). Meski baru saja mengalami duka mendalam, Messi turun sebagai pemain pengganti di babak kedua saat timnya kalah 2-3 dari Club Leon dalam laga Leagues Cup 2026, dan menerima sambungan hangat dari penonton. Pelatih Inter Miami, Guillermo Hoyos, meminta publik memberikan ruang dan ketenangan kepada Messi di masa sulit ini, menekankan bahwa proses berduka tidak bisa dipaksakan.
Hoyos menyatakan bahwa rasa sakit yang dialami Messi tidak bisa diatasi dalam sekejap. “Ada rasa sakit yang mendalam, dan ini bukanlah sesuatu yang berubah dalam semalam,” ujar pelatih asal Argentina itu pada Jumat (14/8), seperti dikutip ESPN. Ia menambahkan, “Keheningan adalah pendekatan terbaik—keheningan, ketenangan, dan kedamaian. Kita harus membiarkannya menemukan momen-momen sendiri.” Menurut Hoyos, keheningan bukanlah sikap acuh, melainkan bentuk dukungan paling tulus yang bisa diberikan kepada seseorang yang kehilangan sosok terdekat.
Messi, yang berusia 39 tahun, telah kembali berlatih pada Jumat kemarin menjelang laga lanjutan MLS melawan Nashville pada Minggu (16/8) pukul 07.30 WIB. Kembalinya sang legenda ke lapangan bukan hanya soal fisik, tapi juga ketahanan emosional. Jorge Messi, yang meninggal setelah menderita sakit serius, adalah sosok sentral dalam perjalanan karier putranya—bukan hanya sebagai ayah, tapi juga sebagai agen yang setia mendampingi Messi pindah dari Rosario ke Barcelona saat masih kanak-kanak demi mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola terbesar di dunia.
Dukungan dari rekan sejawat, termasuk Cristiano Ronaldo, telah mengalir deras, namun Hoyos menegaskan bahwa yang paling dibutuhkan Messi saat ini bukanlah sorotan, tapi ruang untuk merenung. “Dia benar-benar orang yang luar biasa, dan dia memiliki keluarga yang luar biasa,” kata Hoyos. Di tengah hiruk-pikuk dunia sepak bola, permintaan sang pelatih menjadi pengingat bahwa di balik semua gelar dan gol, ada manusia yang sedang berduka—dan manusia pun berhak atas keheningan.















