Sumbawanews.com,- Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa kritik yang kerap dilayangkan partainya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukanlah tanda permusuhan, melainkan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Dalam pidato tanpa teks saat meresmikan renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Megawati dengan tegas menolak upaya pihak-pihak tertentu yang berusaha mempertentangkan hubungan pribadinya dengan Presiden Prabowo.
“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Tapi kan harusnya dipisahkan—bersahabat ya bersahabat, tapi berpolitik kita bisa untuk apa? Untuk demokratisasi. Saya bukan musuh dia, itu teman saya,” ujar Megawati, mengutip pernyataannya yang disampaikan dengan nada tegas namun penuh keakraban.
Ia mengingatkan publik akan momen hangat saat Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni lalu, ketika dirinya dan Prabowo terlihat berjalan berdampingan, tertawa bersama, dan saling menyapa dengan akrab. “Kamu lihat toh waktu 1 Juni? Aku kan gandengan sama dia, ketawa-ketawa. Ayo, apa artinya? Nggak ada. Nanti baru orang teman-temannya yang maunya mem-berang-ko-kan—‘Oh Ibu Mega itu coba gitu mau melawan Pak Prabowo.’ Jangan gitu dong! Kalian tuh harus berani, karena negara kita ini punya tata hukumnya.”
Megawati menekankan bahwa kritik politik bukanlah pengkhianatan, melainkan kewajiban konstitusional bagi oposisi yang bertanggung jawab. Ia menolak tudingan bahwa PDIP berupaya menggagalkan kebijakan pemerintah, sebaliknya, ia menilai kritik sebagai bentuk pengawasan yang diperlukan agar kebijakan publik tetap berpihak pada rakyat kecil.
Di sela-sela pernyataannya, Megawati juga menyentuh isu krusial: kenaikan harga pangan dan kesejahteraan petani. Mengacu pada ajaran Marhaenisme Bung Karno, ia menegaskan pentingnya pemberdayaan petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan. Ia kembali mengingatkan instruksi yang telah dikeluarkannya sejak 2021 kepada seluruh struktur partai: menanam 10 jenis tanaman pangan pendamping beras di seluruh wilayah Indonesia.
“Sejak 2021, saya sudah perintahkan daerah-daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Ini bukan sekadar program, ini pertahanan hidup kita dari ancaman kelaparan,” tegasnya.
Pernyataan Megawati ini muncul di tengah meningkatnya spekulasi politik tentang hubungan antara PDIP dan pemerintah. Namun, dengan nada yang tenang namun tegas, ia menutup pernyataannya dengan pesan yang jelas: politik boleh berbeda, tetapi hubungan kemanusiaan tidak boleh pecah.
“Kita bisa berbeda pendapat, tapi jangan sampai berbeda hati.”

















