Sumbawanews.com,- Panglima Angkatan Darat Lebanon, Rodolphe Haykal, tiba di Pakistan pada Sabtu (6/6) dalam misi diplomatik yang dianggap krusial dalam upaya meredam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kunjungan ini dilakukan atas undangan resmi dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir—tokoh yang dikenal sebagai negosiator utama Islamabad dalam pembicaraan rahasia antara Washington dan Teheran.
Dalam pernyataan resmi militer Lebanon, Haykal ditegaskan sebagai utusan strategis yang membawa pesan penting terkait posisi Beirut dalam proses mediasi yang sedang berlangsung. Sumber militer dan diplomatik mengonfirmasi bahwa Lebanon, meski bukan pihak langsung dalam perundingan, dianggap sebagai elemen kunci oleh Iran—yang menuntut agar keamanan dan kedaulatan Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan akhir antara AS dan Iran.
Ketegangan regional memuncak setelah Hizbullah, yang dianggap sebagai sayap militer Iran di Lebanon, melancarkan serangan ke Israel pada Maret lalu sebagai balasan atas pembunuhan seorang tokoh tinggi Iran di Damaskus. Serangan balasan Israel menewaskan hampir 3.600 orang, memicu konflik berkepanjangan yang belum sepenuhnya mereda meski gencatan senjata telah diumumkan pekan ini di Washington.
Namun, Presiden Lebanon Joseph Aoun menolak keras narasi bahwa negaranya menjadi “alat tawar” Teheran. “Ini bukan negara Anda, ini negara kami. Bukan tugas Anda untuk mencampuri urusan negara kami,” tegas Aoun dalam wawancara eksklusif dengan CNN, menegaskan bahwa Lebanon menolak menjadi panggung permainan kekuatan besar.
Iran, di sisi lain, bersikeras bahwa setiap kesepakatan damai dengan AS harus mencakup jaminan perlindungan bagi Lebanon dari serangan Israel, sekaligus menekan Hizbullah untuk menghentikan operasi militer. Namun, Hizbullah sendiri menolak gencatan senjata yang ditawarkan, menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Lebanon—tuntutan yang belum diterima oleh Tel Aviv.
Kunjungan Haykal ke Islamabad ini, oleh banyak analis, dianggap sebagai upaya Lebanon untuk membangun saluran komunikasi alternatif—melampaui tekanan dari Iran dan AS—demi mempertahankan otonomi strategisnya. Pakistan, dengan hubungan diplomatik yang seimbang terhadap kedua belah pihak, menjadi pilihan logis sebagai mediator netral.
Dengan latar belakang konflik yang semakin kompleks dan kekhawatiran akan eskalasi militer yang lebih luas, langkah Haykal tidak hanya mencerminkan diplomasi militer, tetapi juga upaya diplomatik yang berani untuk menjaga stabilitas di kawasan yang tengah berdiri di ambang kehancuran.

















