Sumbawanews.com,- Seattle, 2 Juli 2026 — Tiga tim Afrika tersingkir dalam waktu 24 jam setelah masing-masing kebobolan gol penentu di menit ke-86, menciptakan pola tragis yang sulit diabaikan. Pantai Gading dikalahkan Norwegia 2-1, Republik Demokratik Kongo takluk dari Inggris 2-1, dan Senegal runtuh setelah dikalahkan Belgia 3-2 setelah perpanjangan waktu—semua dengan kekalahan yang sama-sama diputuskan di menit ke-86.
Pertandingan pertama berlangsung antara Pantai Gading dan Norwegia. Setelah Amad Diallo menyamakan kedudukan 1-1 di menit ke-74, Erling Haaland langsung menjawab dengan gol kemenangan di menit ke-86. Tak berselang lama, Republik Demokratik Kongo mengalami nasib serupa. Brian Cipenga membawa Kongo unggul 1-0 di menit keenam, tapi Harry Kane menyamakan skor di menit ke-75 dan mencetak gol penentu di menit ke-86, mengakhiri mimpi Kongo di babak 32 besar.
Puncak tragedi terjadi pada pertandingan Senegal melawan Belgia, Kamis pagi WIB. Senegal tampil dominan dan unggul 2-0 lewat gol Habib Diarra dan Ismaila Sarr. Namun, di menit ke-86, Youri Tielemans memperkecil kedudukan. Tiga menit kemudian, Romelu Lukaku menyamakan skor 2-2, memaksa laga masuk perpanjangan waktu. Di menit ke-125, Tielemans mengeksekusi penalti yang mengakhiri perlawanan Senegal—menggenapkan kisah pahit tiga tim Afrika yang semua tumbang di menit ke-86.
Kekalahan ini bukan sekadar kebetulan statistik. Dalam sejarah Piala Dunia, belum pernah tiga tim dari satu benua tersingkir dalam 24 jam dengan pola kekalahan yang identik di menit yang sama. Fans Afrika pun mulai menyebutnya sebagai “kutukan menit 86”—sebuah momen yang seolah menjadi titik balik takdir di turnamen paling bergengsi ini.
Dengan tersingkirnya Senegal, Pantai Gading, dan Kongo, Afrika kini hanya menyisakan satu wakil di babak 16 besar: Ghana, yang masih bertahan setelah lolos sebagai runner-up Grup J. Namun, kekalahan beruntun ini memicu pertanyaan besar: apakah tekanan mental, kelelahan fisik, atau sesuatu yang lebih dalam sedang menghantui tim-tim Afrika di momen-momen krusial?
Pertandingan selanjutnya akan menentukan apakah kutukan ini akan berlanjut, atau justru menjadi titik balik bagi tim-tim Afrika untuk membuktikan bahwa mereka mampu menaklukkan tekanan di detik-detik terakhir.















