Sumbawa Barat, sumbawanews.com — Komunitas Kuli Farm menggelar kegiatan belajar bersama tentang pengolahan sampah organik dari sumbernya, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Komunitas Kuli Farm, Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, tersebut diikuti pemuda, pemudi, dan akademisi dari wilayah Sumbawa Barat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memberikan pengetahuan sekaligus praktik langsung kepada masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah organik, khususnya sampah sisa makanan, agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Pegiat lingkungan Kecamatan Maluk, Alimuddin, mengatakan pengolahan sampah dari sumber diperlukan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. Menurutnya, aktivitas masyarakat di wilayah lingkar tambang turut menghasilkan sampah setiap hari, termasuk sampah organik.
“Daerah kita wilayah tambang, tentu aktivitas orang banyak dan akan banyak sampah yang dihasilkan, khususnya organik. Data nasional 60 persen sampah didominasi sampah organik,” jelas Alimuddin saat menyampaikan materi.
Dalam pemaparannya, Alimuddin menjelaskan bahwa sampah yang dipilah dan diproses sejak dari sumber dapat mengurangi beban TPA sekaligus memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi. Ia memberikan contoh sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan air minum yang masih dapat dimanfaatkan melalui penjualan kepada pengepul, ditabung melalui bank sampah, maupun diberikan kepada pemulung.
Selain pemaparan materi dan diskusi, peserta diajak melihat secara langsung fasilitas sederhana yang digunakan untuk mengolah sampah organik menggunakan metode biokonversi magot BSF. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik pengolahan sampah secara langsung.
“Khusus kali ini peserta kita ajak praktik langsung, dan ada kita bagikan SinerBox Magot sebagai wadah mengolah sampah organik dari sumbernya secara gratis,” ungkap Alimuddin.
SinerBox Magot diberikan kepada peserta yang tertarik menerapkan pengolahan sampah organik di rumah. Wadah tersebut dirancang untuk digunakan dalam skala kecil sehingga peserta dapat mencoba mengolah sampah organik rumah tangga secara langsung setelah mengikuti kegiatan.
Alimuddin berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama di wilayah lingkar tambang. Selain pengetahuan, menurutnya, masyarakat perlu memiliki kesempatan untuk mencoba secara langsung dengan fasilitas sederhana yang dapat diterapkan dari rumah.
“Semoga ke depannya kita bisa membagikan lebih banyak lagi wadah atau fasilitas pengolah sampah, khususnya di wilayah lingkar tambang. Jangan sampai mereka sudah semangat mendapat pengetahuan, setidaknya mereka bisa coba skala kecil dulu,” paparnya di sela-sela kegiatan.
Melalui kegiatan tersebut, Kuli Farm mendorong peserta untuk mulai melakukan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya, terutama sampah organik rumah tangga, sebelum dibuang ke TPA.















