Sumbawanews.com,- St. Petersburg — Di sudut toko buku Bookvoed di Rybatskaya Ulitsa, kucing-kucing menghiasi setiap sudut: di cangkir, magnet, kartu pos, hingga sampul buku anak. Tidak sekadar hiasan—mereka adalah simbol hidup dari sejarah yang tak tergantikan.
“Kucing adalah bagian dari darah St. Petersburg,” kata Maria, kasir toko itu, saat saya bertanya mengapa gambar kucing begitu mendominasi suvenir kota ini. Jawabannya bukan soal kegemasan, tapi soal selamat.
Sejarahnya berawal di abad ke-18, ketika Permaisuri Yelizaveta Petrovna mengirimkan ratusan kucing pemburu tikus ke Istana Musim Dingin. Wabah hama mengancam persediaan makanan istana, dan kucing-kucing itulah yang menyelamatkan kekaisaran. Tradisi itu diteruskan oleh Catherine Agung, yang menempatkan mereka sebagai penjaga resmi Museum Hermitage—yang kini menjadi salah satu koleksi seni terbesar di dunia. Hingga kini, puluhan kucing tetap tinggal di ruang bawah tanah museum, dirawat staf khusus, dan diakui dunia sebagai *Hermitage Cats*.
Namun, peran mereka yang paling legendaris terjadi di masa paling kelam: saat Leningrad—nama kota ini saat itu—dikepung selama 872 hari oleh Nazi dalam Perang Dunia II. Kelaparan, dingin, dan kehancuran memusnahkan hampir semua kucing di kota. Tapi setelah pengepungan berakhir, masalah baru muncul: tikus berkembang biak liar di gudang makanan, rumah-rumah hancur, dan jalanan menjadi sarang penyakit.
Dalam keadaan kota yang hampir mati, pemerintah Soviet mengirim ribuan kucing dari seluruh Rusia. Mereka bukan sekadar hewan peliharaan—mereka adalah pasukan penyelamat. Dengan kehadiran mereka, populasi tikus anjlok, persediaan pangan terlindungi, dan kesehatan warga perlahan pulih. Kucing-kucing itu menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, simbol ketahanan yang berbulu.
Saat ini, kucing-kucing itu tidak lagi berkeliaran di jalanan. Cuaca dingin membuat sebagian besar dipelihara di dalam rumah. Tapi kehadiran mereka tak pernah hilang. Di setiap lukisan, setiap gantungan kunci, setiap cerita yang diceritakan orang tua kepada anak-anaknya—kucing tetap hadir. Bukan sebagai hewan peliharaan biasa, tapi sebagai pengingat: bahwa dalam kehancuran, kehidupan bisa kembali, bahkan dengan cara yang paling tak terduga.
Di St. Petersburg, kucing bukan sekadar hewan. Mereka adalah ingatan, penjaga, dan penyelamat—yang tak pernah diminta untuk berjuang, tapi tetap memilih untuk bertahan.

















