Home Berita Nasional Kolonel Didin Diminta Hadap Prabowo Usai Pimpin Upacara Pancasila

Kolonel Didin Diminta Hadap Prabowo Usai Pimpin Upacara Pancasila

Sumbawanews.com,- Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, berlangsung khidmat dan berakhir dengan momen tak terduga. Setelah memimpin upacara sebagai inspektur, Presiden Prabowo Subianto meminta Kolonel Infanteri Didin Nasruddin Darsono, yang bertindak sebagai komandan upacara, untuk menghadap langsung.

“Terima kasih atas pelaksanaan upacara yang baik. Komandan upacara menghadap saya,” ujar Prabowo dengan nada tegas namun penuh penghargaan, seperti tercatat dalam rekaman resmi.

Momen itu bukan sekadar formalitas. Dalam konteks militer, permintaan seorang presiden agar komandan upacara menghadap secara pribadi setelah ritual kehormatan nasional adalah tanda apresiasi tinggi—sebuah pengakuan langsung atas ketepatan, disiplin, dan profesionalisme dalam menjalankan tugas. Didin, yang memimpin pasukan dengan presisi hingga detik terakhir, tampak tegak dan tenang saat mendekat, lalu memberi salam militer sebelum kembali ke posisi semula.

Didin, lulusan Akademi Militer 2001, saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Teritorial Korem 163/Wirasatya Bali. Pria kelahiran Sidoarjo, 5 Juli 1979, ini pernah memimpin sejumlah satuan strategis di Jawa Timur, termasuk sebagai Dandim 0830/Surabaya Timur dan Dandim 0808/Blitar. Karier militernya dikenal stabil, tanpa gosip, dan penuh dedikasi—ciri khas prajurit yang dihormati di jajaran TNI AD.

Kehadiran Prabowo sebagai inspektur upacara juga menandai keberlanjutan simbolisme kuat: Pancasila sebagai fondasi negara yang tak hanya diucapkan, tapi dijalankan. Di sela-sela acara, Presiden sempat berbincang akrab dengan sejumlah tokoh senior, termasuk Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan Ma’ruf Amin—momen yang kembali mengingatkan publik akan dinamika politik yang tetap menjaga ruang kehormatan di atas kepentingan partisan.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar doktrin sejarah, tapi pedoman hidup untuk membangun sistem ekonomi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berdaulat. “Kita harus berani membela rakyat, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan kebijakan yang tegas dan konsisten,” ujarnya.

Ketika Didin kembali ke barisan pasukan, tak ada sorak-sorai, tak ada kamera yang menyorotnya—hanya senyum kecil dari beberapa perwira senior yang mengangguk. Di balik kesederhanaan momen itu, tersimpan makna yang dalam: dalam negara yang besar, apresiasi tertinggi seringkali datang bukan dari panggung, tapi dari seorang pemimpin yang melihat, menghargai, dan memanggil nama seseorang yang bekerja diam-diam di garis depan.

Previous articleSiri Revolusioner: Apple Lawan ChatGPT dengan AI Gemini
Next articleKloter Pertama Jemaah Haji Tiba di Tanah Air dengan Penuh Syukur
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik