Sumbawanews.com,- Petugas Damkar Kabupaten Bogor berhasil mengevakuasi seekor king kobra sepanjang empat meter yang masuk ke garasi rumah warga di Parungpanjang, Jawa Barat. Ular berbisa paling mematikan di dunia itu ditemukan pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 17.51 WIB, saat pemilik rumah bernama LM sedang membersihkan area garasi.
Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, mengatakan, kehadiran ular langka itu langsung dilaporkan ke petugas sektor Parungpanjang karena khawatir membahayakan penghuni rumah. “Pemilik sangat panik. King kobra ini tidak hanya besar, tapi juga sangat agresif jika merasa terancam,” ujar Yudi, Selasa (2/6/2026).
Tim evakuasi yang terdiri dari petugas berpengalaman datang ke lokasi dalam waktu singkat. Dengan peralatan khusus dan prosedur keselamatan ketat, mereka memeriksa setiap sudut garasi sebelum akhirnya menangkap ular tersebut dalam kondisi utuh. Proses evakuasi berlangsung selama 40 menit tanpa insiden.
“Ular berjenis *Ophiophagus hannah* ini diperkirakan berusia dewasa dan berada dalam kondisi sehat. Kemungkinan besar ia masuk melalui celah di dinding atau saluran pembuangan, mengikuti jejak hewan kecil yang menjadi mangsanya,” jelas Yudi.
Pihak Damkar kemudian membawa king kobra itu ke lokasi yang aman untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya, sesuai protokol konservasi satwa liar. Tidak ada korban luka atau kerusakan properti akibat kejadian ini.
Kejadian ini menjadi yang kedua dalam sebulan di wilayah Jabodetabek, setelah sebelumnya king kobra serupa ditemukan di kantor BRIN di Tangsel. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan pergeseran habitat satwa liar akibat ekspansi permukiman ke area hutan dan lahan hijau yang semakin menyempit.
Pemerintah Kabupaten Bogor pun mengimbau warga untuk tidak mencoba menangkap atau mengusir ular sendiri, terutama jenis berbisa. “Jangan panik, segera hubungi petugas. Ular tidak menyerang tanpa sebab. Mereka hanya mencari tempat berlindung atau makanan,” tegas Yudi.
Sementara itu, warga di sekitar lokasi mulai melakukan pemeriksaan ulang terhadap struktur rumah mereka—terutama celah di dinding, atap, dan saluran air—sebagai upaya pencegahan. Di beberapa titik, tim gabungan dari Damkar dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) juga mulai melakukan sosialisasi ke lingkungan sekitar tentang cara hidup berdampingan dengan satwa liar di era urbanisasi yang tak terbendung.















