Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau kini semakin menguat di wilayah Indonesia bagian selatan, dengan sejumlah daerah mengalami periode tanpa hujan hingga 60 hari berturut-turut. Fenomena ini menandai pergeseran pola iklim yang semakin ekstrem, memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan air, kesehatan pertanian, dan risiko kebakaran hutan.
Berdasarkan pemantauan terkini hingga 17 Juni 2026, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah memasuki kategori “sangat panjang” dalam hal hari tanpa hujan—yakni 31 hingga 60 hari tanpa curah hujan signifikan. Wilayah-wilayah lain seperti sebagian Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga menunjukkan tren serupa, meski dengan intensitas yang lebih variatif.
BMKG mencatat bahwa 33,3 persen dari 233 Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau. Angka ini menunjukkan perluasan pola kering yang tidak lagi terbatas pada wilayah tradisional, melainkan mulai menjangkau area yang sebelumnya lebih basah. Kondisi ini sejalan dengan dominasi tekanan tinggi di atas Samudra Hindia, yang menghambat pergerakan massa udara basah dari utara.
“Pola ini tidak hanya mengurangi curah hujan, tetapi juga memperlebar perbedaan suhu antara siang dan malam,” ujar ahli iklim BMKG. “Siang hari terasa lebih panas, sementara malam hingga pagi hari suhu turun drastis, berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat dan produktivitas pertanian.”
Di sisi lain, wilayah Indonesia bagian utara—termasuk sebagian Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Papua—masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat, menciptakan ketimpangan iklim yang tajam antara utara dan selatan. BMKG menekankan bahwa ketimpangan ini perlu diantisipasi melalui manajemen sumber daya air yang lebih strategis, terutama di daerah rawan kekeringan meteorologis.
Pemerintah daerah diminta segera mengaktifkan sistem pemantauan cadangan air bersih, memperkuat kesiapsiagaan terhadap kebakaran lahan, dan mengoptimalkan penanaman tanaman tahan kekeringan. Sementara itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan air berlebihan dan melaporkan titik-titik kekeringan ekstrem melalui kanal resmi BMKG.
Dengan tren yang terus memburuk, BMKG memperkirakan kondisi kering akan berlangsung hingga akhir Agustus 2026, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli mendatang. Pemantauan intensif akan terus dilakukan, termasuk kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memitigasi dampak sosial-ekonomi yang mungkin timbul.















