Sumbawanews.com,- Katedral Dormition di kompleks Biara Kyiv Pechersk Lavra, salah satu situs keagamaan paling sakral di dunia Ortodoks Timur, hangus dilalap api setelah dihantam serangan rudal dan drone Rusia pada Minggu malam (14/6). Serangan itu merupakan bagian dari serbuan masif yang melibatkan 70 rudal dan 611 drone terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, yang menewaskan puluhan warga sipil dan merusak infrastruktur penting.
Katedral berusia sembilan abad itu, yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menjadi saksi bisu kehancuran peradaban. Foto-foto yang beredar menunjukkan atapnya runtuh, kubahnya terbakar, dan asap hitam membubung tinggi di langit Kyiv. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko dan Gubernur Militer Tymur Tkachenko mengonfirmasi kerusakan parah di kompleks biara yang menjadi pusat spiritual bagi jutaan umat Ortodoks Ukraina dan Rusia.
Namun, dalam kekacauan itu, para biarawan dan imam berhasil menyelamatkan sejumlah ikon kuno dan benda-benda suci sebelum api melahap seluruh bangunan. “Kami mengutamakan evakuasi barang-barang religius yang tak ternilai harganya,” kata Uskup Avraamii, pemimpin biara tersebut. “Ini bukan hanya bangunan batu, tapi rumah dari kenangan iman yang diwariskan selama 950 tahun.”
Rusia membantah telah menargetkan katedral. Kementerian Pertahanan Moskow berdalih bahwa kerusakan disebabkan oleh rudal Patriot buatan Amerika Serikat yang gagal menghancurkan target militer Ukraina dan justru meleset ke area sipil. “Angkatan bersenjata Federasi Rusia tidak menyerang infrastruktur sipil,” demikian pernyataan resmi mereka, yang menyalahkan pasokan senjata kedaluwarsa dari Barat sebagai penyebab kegagalan sistem pertahanan udara Ukraina.
Namun, para ahli militer dan lembaga internasional menilai klaim Rusia tidak masuk akal. Biara Pechersk Lavra berada jauh dari fasilitas militer utama, dan tidak ada indikasi adanya sasaran militer di sekitarnya. Serangan itu justru menambah daftar panjang situs budaya dan keagamaan yang menjadi korban konflik — sebuah pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional yang telah diakui dunia sejak era Perang Dunia II.
Dengan hancurnya katedral ini, dunia kehilangan bukan hanya arsitektur abad ke-11, tapi juga simbol ketahanan spiritual sebuah bangsa yang bertahan di tengah keganasan perang. Di tengah gema diplomasi yang semakin terpecah, katedral yang runtuh menjadi pengingat paling menyakitkan: dalam perang modern, sejarah pun ikut dibakar.

















