Sumbawanews.com,- Timnas Jerman resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah 3-4 dalam adu penalti melawan Paraguay pada babak 32 besar di Stadion Boston, Amerika Serikat, Selasa, 30 Juni 2026. Kegagalan ini mengakhiri mimpi Der Panzer untuk melaju ke babak selanjutnya, sekaligus menjadi catatan kelam dalam sejarah turnamen yang dihelat di Amerika Utara.
Penyerang Kai Havertz, yang gagal mengeksekusi penalti pertama Jerman, menjadi salah satu suara paling vokal pasca-laga. Ia secara tegas menolak menyalahkan pelatih Julian Nagelsmann. “Hal yang bisa saya lakukan hanyalah meminta maaf. Kami—dan yang saya maksud khususnya adalah para pemain, di luar pelatih—harus benar-benar berkaca dan mencermati diri kami sendiri,” ujar Havertz dalam pernyataan resmi FIFA.
Pernyataan itu diperkuat oleh kapten tim, Joshua Kimmich, yang menegaskan bahwa tim pantas tersingkir karena tak mampu menang dalam 120 menit pertandingan. “Tidak ada alasan untuk menyalahkan wasit atau adu penalti. Jika Anda gagal menang dalam waktu normal maupun perpanjangan, Anda memang layak pergi,” tegas Kimmich, yang juga menyesalkan kegagalan tim untuk membangkitkan kebanggaan publik.
Kimmich, yang telah bermain sejak usia muda dengan harapan melihat Jerman bersaing di final, mengakui bahwa kekalahan ini bukan sekadar kegagalan olahraga, tapi kegagalan identitas. “Kami gagal menjadi tim yang bisa dibanggakan. Dan pada akhirnya, semua dinilai dari hasil: berhasil atau tidak.”
Pelatih Julian Nagelsmann, yang masih terikat kontrak hingga 2028, mengakui kelemahan taktis timnya. Ia menyebut permainan Jerman terlalu lambat dalam membongkar pertahanan Paraguay, sementara lini belakang gagal mengantisipasi serangan sederhana yang justru membalikkan keadaan. Namun, ia menegaskan tidak ada tekanan dari dalam ruang ganti untuk mundur.
Sebaliknya, Kimmich menegaskan bahwa seluruh pemain tetap mendukung Nagelsmann. “Tidak ada satu pun dari kami yang menyalahkan pelatih. Ini tanggung jawab bersama—bukan tanggung jawab seorang individu.”
Kegagalan Jerman ini menandai pertama kalinya sejak 2018 bahwa tim Jerman gagal lolos dari babak 32 besar Piala Dunia, sekaligus memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap generasi terkini yang diharapkan bisa mengembalikan kejayaan tim berjuluk Der Panzer.
Dengan tersingkirnya tim-tim besar seperti Jerman, Jepang, dan Belanda dalam putaran awal, Piala Dunia 2026 semakin menunjukkan pergeseran kekuatan: tim-tim yang sebelumnya dianggap underdog justru tampil lebih tajam, lebih disiplin, dan lebih berani mengambil inisiatif. Jerman kini harus menghadapi masa transisi berat—bukan hanya dalam strategi, tapi dalam mentalitas.















