Sumbawanews.com,- Jumlah warga Jepang yang tinggal di dalam negeri turun di bawah 120 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 42 tahun, menurut data pemerintah yang dirilis pada 29 Juli 2026. Angka tersebut mencapai 119,74 juta pada 1 Januari 2026, turun 0,76 persen dari tahun sebelumnya, memperdalam krisis demografi yang telah berlangsung selama 17 tahun berturut-turut sejak puncaknya pada 2009. Penurunan ini dipicu oleh angka kelahiran yang terus anjlok dan populasi yang semakin menua, dengan median usia mencapai 49,9 tahun—tertinggi kedua di dunia setelah Monako. Sementara itu, jumlah warga asing di Jepang mencapai rekor tertinggi sejak pendataan dimulai pada 2013, membuat total populasi termasuk warga asing menjadi 123,8 juta.
Angka fertilitas total Jepang turun menjadi 1,14 pada tahun lalu, rekor terendah dalam 10 tahun berturut-turut, sementara jumlah bayi yang lahir menyentuh titik terendah sejak 1899, dengan hanya sedikit di atas 670.000 kelahiran. Kondisi ini memperparah tekanan pada tenaga kerja, membebani sistem jaminan sosial, dan mengurangi basis pajak. Namun, pemerintah Tokyo mencatat sedikit harapan melalui aplikasi perjodohan berbasis kecerdasan buatan bernama TOKYO Enmusubi, yang diluncurkan September 2024. Hingga 30 Juni 2026, 265 pasangan telah menikah setelah berkenalan lewat aplikasi itu, dengan 16.000 anggota terdaftar yang telah melewati seleksi ketat, termasuk verifikasi status lajang dan wawancara daring. Salah satu pengguna, yang menyebut dirinya “Turtle”, mengaku menemukan pasangan hidupnya lewat aplikasi itu menjelang ulang tahunnya yang ke-40, dan menerima lamaran pada akhir Desember.















